Jumat, 09 Januari 2015

Jikalau ada rumah yang paling kucintai setelah MASJID. maka itu pasti kamu IKMB-UNHAS. lembaga yang kutempati tumbuh dan berproses mengisi kepolosan dan keluguan SMA tentang dunia perguruan Tinggi. Lembaga yang mengajarkan budaya-budaya bone sbenarnya, yg orientasi.nya menjaga adat2 bugis kita, kutau klu inilah tempatku. bukan LATENRITATTA tp semakin hari kurasa, semboyan perjuangan kita (Sipakatau, Sipakalebbi, na Sipakkainge') semakin hilang. padahal itumi dasar perjuanganta kesian. ibarat Indonesia yg semboyan nya adalah Bhineka Tunggal Ika. kau sudah mulai tercemari oleh budaya-budaya kota, bahkan kebiasaan-kebiasaan yag sejak zaman Rasulullah telah diwanti-wanti agar dijauhi : "Janganlah kamu mencela sebagian yang lain, karena boleh jadi yang dicela lebih baik dari pada yang mencela"."Dan jauhilah sebagian dari pada prasangka, karena sebahagian dari prasangka itu buruk"."Saudara itu, adalah saat dia tak ada, engkau berbicara seakan ia berada didekatmu".Tolong menolonglah dalam kebaikan, dan janganlah tolong menolong dalam keburukan"."rasulullah : dan tidaklah aku meninggalkan ujian yang paling berat bagi para lelaki setelah aku tiada melainkan wanita". tp aku berharap nntinya semua itu akan baik kembali, klu perlu IKMB-UNHAS menjadi generasi yang sebaik SAHABAT rasulullah S.A.W.

Salam Biru Hitam....
Salam Biru Hitam....
Salam Biru Hitam....

 

Rabu, 07 Januari 2015

Mengawali Malam Kamis Berkah

kt tau salah
d tau.ji jg klu buruk,
orang pun sepakat itu salah
tp krn sdh menjadi kebiasaan, telah membudaya, dan sdh jadi titik nyaman.nya kita.
maka kata "salah" tak ad arti, "buruk"pun tak peduli.
"Kesuksesan bukanlah hasil dr suatu tindakan, tp bentuk dr pembiasaan"
mari mmbiasakan diri dgn hal2 baik.

Senin, 05 Januari 2015

Hasan Al-Bashri ( Sebuah kisah tentang kesabaran yang hakiki )

Imam Hasan al-bashri adalah seorang ulama tabi'in terkemuka di irak. ia memiliki seorang tetangga nashrani. tetangganya ini memiliki kamar kecil untuk kencing dilonteng atas rumahnya. atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. air kencing dari kamar kecil tetangganya itu merembes den menetes kedalam kamar imam hasan.
selama 20 tahun kejadian itu terus berlangsung dan imam hasan al-bashri rahimahullah tak pernah mengeluhkan hal tersebut kepada tetangganya. beliau benar-benar ingin mengamalkan hadist rasulullah "barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya."

Hingga suatu waktu imam hasan terjatuh sakit.tetangga nashraninya itu datang menjenguknya. ia merasa aneh ada air yang menetes di atas lonteng tetangganya tersebut. ia langsung mengerti bahwa itu adlah rembesan air kencing dari kamar mandinya. dan yang membuatnya heran adalah, mengapa hasan al-bashri tak pernah mengatakannya.

"Imam, sejak kapan air tetesan kamar mandi kami merembes kerumahmu ?"
"Sejak 20 tahun yang lalu"
"kenapa engkau tidak memberitahuku ?"
"Nabi kami mengajarkan untuk senantiasa memuliakan tetangga bagi siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir,"
Maka seketika itu, orangnashrani tersebut, mengucapkan 2 kalimasyahadat.
ASYHADUANLAAILAAHA ILLALLAH WA ASYHADUANNAMUHAMMADARRASULULLAH.

Negeriku

Seringkali kita temukan pemuda-pemuda yang begitu hebatnya dan begitu berapi-api dalam berorasi, berkata-kata, bahkan tak jarang mereka terlihat lebih pandai dari orang-orang bijak sekalipun, namun yang miris, adalah ketika ternyata keseharian mereka berbanding 180 derajat dengan apa yang mereka dengung-dengungkan. bahkan jauh lebih buruk. rokok, prngrusakan lngkungan, pengrusakan gedung-gedung sampai aturan-aturan agama yang seharusnya menjadi pondasi utama dalam hidup, seakan hanya menjadi slogan-slogan penyejuk mulut saja yang diungkapkan tanpa adanya aplikasi. belum sampaikah kepada mereka firman allah S.W.T. :
"Amat besar murka allah kepada mereka yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan"

       kita bagian dari penegak bangsa, pemuda - pemuda, yang tentunya sampai hari ini masih peduli dengan bangsa kita, tak perlu menjadi Perusak bangunan-bangunan mewah itu untuk menolak KORUPTOR, tak perlu merusak SPBU bila menolak kenaikan BBM, dan tak perlu merusak Kampus sendiri bila menolak SPP naik. mulailah budaya-budaya yang baik dari diri kita masing-masing.

     Karena kami yakin, degradasi nilai-nilai moral yang terjadi sampai hari ini, semua itu karena kurangnya kesadaran kita tentang arti kemanusiaan. 1 jalan pintas untuk kembali memahami itu.
KEMBALI PADA AL-QUR'AN

Sebuah Penggalan Novel tentang Cinta yang sebenarnya



2 mm
Saya tiba-tiba berdiri diatas tanah lapang yang luas nan hijau. Saya tidak tahu persis tempat seperti apa itu. Sunyi. Tak ada apa-apa. Hanya ada hamparan permadani hijau yang membentang sejauh mataku memandang. Saya merasa hanya sendiri di tempat itu. Sepi dalam hening yang dalam. Tiba-tiba saya mendengar ada yang menyebut namaku. Saya menoleh. Mencari sumber suara. Sekitar empat langkah dariku. Arah jam lima. Saya melihat seorang wanita tinggi semampai berdiri menatapku. Dibelakangnya, nun disana merah saga melumuri kaki langit. Saya mengenal perempuan itu. Lebih dari sekedar kenal tepatnya. Pahatan wajahnya mungkin sudah memenuhi setiap mili dari dinding hatiku. Dia melepas senyum kepadaku. (sebuah senyum yang sudah pernah kukatakan padamu sebelumnya parner, kalau tak ada rindang pohon yang bisa mengalahkan teduhnya senyum itu). Dass!! Ketuban neuropinephrine-ku pecah. Melayang. Rasanya seperti ada angin sepoi-sepoi yang menghembus dalam dadaku. Menari-nari dan menggetarkan dahan-dahan kanopi hatiku.
Wanita itu, akhirnya merumput lagi dalam stadion mimpiku. Lama sekali ia tak bertandang. Terakhir kali -dan itu yang pertama- sebulan lalu. Rabu pagi. Dua puluh november. Antara jam satu dan jam empat. ( detailnya lihat dibuku pribadiku. Bagian dua. Halaman tujuh belas). Saya melihat kami berdua ada di taman Spatodea campanulata. Duduk diatas bangku panjang warna toska. Berdampingan. Sementara bunga-bunga spatodea berguguran merintiki kami. Dia menyanyi. Lagu barat. Jar of heart. Tapi saya kesulitan mengiringinya dengan gitar. Dia ngambek, kemudian pergi. Sudah itu tak sudi lagi mampir di mimpiku. Malam-malam berikutnya kucoba untuk terus memikirkannya. Agar terbawa dalam mimpi. Kurayu TUHAN dengan doa. Memohon ke murahan-NYA agar membuatku bermimpi tentangnya. Tapi nihil. Memang saya bermimpi, namun yang kulihat adalah mas-mas penjual manisan yang berlalu didepanku. Menjajakan manisannya. Padahal ceritanya saya lagi duduk di pintu kamar kost memotong kuku ibu jari kaki.
Justru kemudian disaat momen yang tidak tepat seperti ini dia malah datang. Saat saya tidur....Ah, nanti saja kuceritakan kenapa sampai kubilang ini bukan moment yang tepat.
Sekali lagi saya menyapu alam sekitar dengan sekali pandang. Tak ada pohon, tiang, pancang, atau semai sekalipun. Tapi disini lebih sejuk dari Unhas kala siang hari. Yang saya lihat masih padang rumput yang tak bertepi. Hijau dan segar. Tak ada siapa-siapa disini selain kami berdua. Saya senyum empat centimeter. Tidak kepada wanita didepanku. Tapi lebih kepada seekor kyuubi yang tersegel dalam diriku. Kyuubi disini bukanlah si musang ekor sembilan seperti yang dimiliki Naruto. Saya bukan jhincuriki. Tapi kyuubi disini adalah bentuk metafora yang kupilih untuk mewakili sebuah istilah yang lebih kalian kenal dengan: Naluri seks. Ini kesempatan. Tapi saya kemudian tersentak. Tidak!!. Kusegel kembali kyuubiku dengan jutsu astagfirullah. Ku katakan padanya : sabar parner. Semua akan ada waktunya. Kalau dia sudah jadi halal bagi kita, maka kau akan kukeluarkan. Kalau perlu sampai ekor yang ke-99. (lihatlah parner, bahkan dalam mimpi saya tak berani berbuat nakal padanya selangkah kaki semut sekalipun)
Wanita itu masih tersenyum padaku. Dengan kerudung abu-abunya, kaos lengan panjang dengan warna sama, longgar seperti baju cewek-cewek FKG, dengan rok warna cokelat gelap mencumbu rerumputan, dia nampak begitu anggun. (untuk kedua mataku, dia memang selalu terlihat anggun). Saya ingin memandangnya terus seperti ini. Kalau saja teknologi sudah lebih canggih sekarang, mampu menciptakan IDM yang bisa men-download mimpi. Maka saya akan men-download momen ini agar bisa kuputar ulang di labtopku. Kapan pun saya mau ketika terjaga.
Tapi persetan dengan itu. Ada hal yang lebih urgen untuk saya bahas sekarang. Saat saya menatap lekat-lekat wajah wanita itu, tiba-tiba saya melihat ada titik merah bulat diatas alis sebelah kirinya. Sebiji jerawat. Sejak kapan dia memiliki pimple unyu’-unyu’ itu. Terakhir saya lihat didunia nyata wajahnya mulus-mulus saja. Apa itu semacam simbolis yang membawa pesan tersirat untukku. Nalar interpretasiku mulai meraba-raba. Jerawat bisa jadi representasi dari ketertarikannya pada lawan jenis. Wanita itu menyukai seseorang?. Sebuah kemungkinan terburuk menghinggapiku mengingat di dunia nyata wanita itu tak pernah menaruh perhatian sedikitpun kepadaku, kalimat-kalimat puitisku selalu saja hancur berkeping-keping begitu membentur wajah dinginnya kepadaku.
 Seseorang telah menaklukkan hatinya, dan itu bukan saya.  Aiii. Sakit sekali membayangkan hal itu.
 Galau, cemburu, marah,  penasaran, takut, curiga, panas, dan dingin bertransformasi menjadi cryptotermes dan mendegradasi selulosa damai yang kurasakan beberapa menit terakhir. Kebahagiaanku dengan cepat menguap seperti tetes embun di musim kemarau. Tapi ini masih hipotesis. Saya mau bertanya langsung padanya. Kuharap dia punya penjelasan yang baik tentang jerawat sialan itu.
Tempat ini sudah tak sesejuk tadi. (Pengaruh suasana hati). Sekarang lebih seperti lab GITH. Sesak dan panas. Saya mendekati wanita itu. Satu langkah. Kami bersitatap. Degup jantungku memadu cepat.
“jerawat siapa itu?” Pertanyaan saya lepaskan.
Hening.
Tik..tok..tik..tok.
Tinggal menunggu jawaban. Kutatap dalam matanya. (sebuah fenomena baru kusadari. Dan ini bertentangan dengan ketentuan alam. Bahwa saat menatapnya dari jarak sedekat ini, seperti bayangnya tidak jatuh di retina mataku. Tapi jauh kedalam lubuk hatiku). wanita itu membuang pandangannya. Jauh. Hidungnya mengembang. Dadanya terangkat. Bibirnya bergerak lembut. Mengucap lirih sesuatu. kata maaf. Kemudian dia kembali menantang mataku. Diam. Hening. Namun tiba-tiba sebuah bunga jatuh menimpa kepala wanita itu. Terpantul dan terus jatuh ketanah. Bunga warna orange. Spatodea campanulata. Dari mana datangnya?. Kulihat kearah langit. Kawanan bunga spatodea beterbangan liar diatas sana. Bermanuver. Menukik tajam kearah kami. Meliuk-liuk dengan gerakan akrobatis seperti baronsai. Masuk disela-sela kami kemudian melesat kembali ke udara. Saya terpukau. Tepuk tangan. Lama sekali. (entah kenapa ceritanya jadi seperti ini. Saya juga heran parner. Tapi bukan mimpi namanya kalau nda aneh-aneh). Wanita itu juga terpukau. Melompat-lompat kecil. Melambai-lambaikan tangan. Kawanan spatodea itu kemudian berkumpul tak jauh diatas kepala kami. Dengan sangat mengejutkan, bekerja sama membentuk rangkaian huruf menjadi sebuah kalimat yang tertulis diudara. Saya baca : BERSAMBUNG. Maksudnya? 
Dan semuanya pun menjadi gelap. Tak ada lagi hamparan permadani hijau seperti tadi. Saya jengkel. Ternyata itu maksudnya. Mana ada mimpi yang bersambung.
AnasSongkolo.!!
 Songkolo.
Songkolo kongkong!!
            Saya merasa seperti ada yang mengguncang bahuku. Memanggil-manggil namaku. Saya terbangun. Silau. Saya memicingkan mata sebelah. Seseorang menggenggam bahuku. Saya lihat mukanya. Dwiki ternyata. Tadi dia juga yang memanggil namaku. Saya mengenal suaranya. Ia tertawa. Sekarang saya sadar blunder lagi. Mataku masih liyer-liyer. Saya lihat didepanku, Sisi. Ia menutup mulutnya. Ku tahu ia sudah tak tahan mau memuntahkan tawanya. Semua pasang mata dikelas tertuju padaku. Saya hanya bisa cengar-cengir. memanggutkan kepala pada dosen ilmu kayu yang berdiri didepan kelas. Minta maaf.
Tadi kau mimpi makan songkolo bagadang dimana? Dosen itu bertanya.
Disambut tawa teman-teman satu kelas. Riuh. Yang paling keras ketawanya Sisi. Satu teplakan menyambar kepalaku.
****
Saat menulis kalimat ini, kata ini, huruf ini, dan tanda koma ini, mungkin kalian sudah tidur lelap dalam aula gedung riset. Rebah tak beraturan. Seperti barang-barang para penumpang yang baru diturunkan di terminal. Jam 3 pagi. Saya sendiri duduk diluar teras.  Sudah menjadi kebiasaanku terbangun diwaktu seperti ini. Ketenangan yang ditawarkan sepertiga malam terakhir selalu memikat jiwaku. Apalagi di pundak gunung seperti ini.  Di atasku siluet tajuk koloni pinus merkusi membingkai langit yang dibuat sesak oleh kawanan bintang. Mengerjap-ngerjap. Seperti milyaran pasang mata penguni langit yang mengintip bumi. Mengintip jiwa-jiwa yang terjaga mengingat Tuhannya. Gedung riset terlelap. Hutan pendidikan hening cipta. Hanya terdengar semilir angin, gemerisik dedaunan, mars jangkrik dan decit mata pena yang menulis ini dalam buku pribadiku. Selebihnya itu hening. Alam tenggelam dalam malam yang dalam.
 (sebelum menulis ini, saya berhenti untuk mengisap rokok dulu. Tiga kali isapan. Belum puas. Kutambah sekali lagi. sudah itu kumatikan. Simpan diatas asbak lagi. lanjut menulis lagi.)
             Saat menatap langit sekali lagi. Melihat bintang-gemintangnya yang kini sudah nampak seperti titik-titik putih pada tampilan pertama slide di fakultas. Tiba-tiba saja ada perasaan rindu yang kurasa menari-nari dalam dadaku. Sesak. Apa kabar dia? Terakhir saya bertemu dengannya kemarin di fakultas. Masih dengan sikap dinginnya. Hatinya masih sekokoh benteng fort Rotterdam untuk kutaklukkan. Saya kira dia juga ikut praktek lapangan ke Bengo. Ternyata tidak. Dia rupanya belum ambil mata kuliah keteknikan di semester ini.
            Apakah dia tahu kalau semakin lama hatiku kian menjadi rapuh dari setangkai bunga mawar karenanya?
            Ah, andaikan dia ada disini sekarang, duduk bersamaku, akan saya katakan padanya kalau matanya itu jauh lebih indah dari langit malam ini.
****
Bengo-bengo. Aula gedung riset. Pagi-pagi.
            Ada sebuah teori yang mengatakan siapa saja yang mengisi kepolosanmu, maka dia akan menjadi sangat berkesan sepanjang hidupmu. Entahlah benar atau tidak. Tapi teori ini bisa memberikan penjelasan yang baik tentang beberapa kasus. Pertama: Mengapa seorang ibu itu bisa sangat berkesan bagi anaknya. Karena ketika si anak lahir, ibunyalah yang pertama kali menyambutnya. Ibunyalah yang mengisi kepolosan si anak yang belum tahu apa-apa tentang lingkungan barunya. Kedua…mengapa pacar pertama sulit dilupakan. Karena ia sangat berkesan. Kau bisa mengenal pacaran dari dia. Dia yang mengajarimu bagaimana adab-adab dalam berpacaran. Mengisi kepolosannmu. Yang terakhir. Ini yang paling penting. Saya sudah banyak bergaul dengan teman-teman dari kelas lain. Tapi jujur, ada perasaan beda yang kurasakan saat bersama dengan teman-teman dari kelas D. mengapa bisa? mungkin karena mereka berkesan. Disaat saya masih awam tentang dunia perkuliahan di awal semester 1, di saat saya baru menjalani pengalaman pertama terpisah dari orang tua dikampung dan hidup di Makassar, di lingkungan baru, maka teman-teman kelas D inilah yang menemaniku sehari-hari. Sama-sama mengisi kekosongan dan kepolosan tentang dunia baru kami.
            Dan kurasa ini tidak hanya mengikat kelas D, tapi merata di semua kelas. Seperti yang terlihat dihari ini.
“Masih ada airmu?” Budi datang membawa semangkuk mie instannya yang belum disiram.
“ Ada ji beb.”
“Dari mana ko memang kah..?”
“Dari ka mandi..
         Lingkaran memberi ruang untuk Budi. Budi duduk di dekat ku. Wangi yang ditinggalkan sabun di badannya menyeruak masuk hidungku. Dia menatapku. Menaik-naikkan alisnya nakal. Mungkin artinya : sabun shinzui ces!!. Kubalas dengan senyum 2 cm. Artinya : Bombe’ ko, mandi nda panggil-panggil. Solkar!!. Saya berpaling. Lagi malas meladeni budi dengan komunikasi tingkat tinggi kami. Pop mie-ku sudah habis. Sebagian juga sudah selesai. Sekarang pukul 07.12. Masih ada waktu sekitar 10 menit untuk rehat sebelum siap-siap ke aula Eboni. Ada pengarahan yang akan diberikan oleh para asisten sebelum memulai praktek lapangan di sana. Saya bergegas. Membersihkan remeh-remeh sisa makanku. Membuang di tempat sampah. Arah jam 9 dariku, kulihat Vina....
         sinar matahari menembus jendela kaca yang dibuka 15 derajat. Membingkai gerombolan debu yang beterbangan di udara. Menabrak poni-poni yang menggelayut liar di depan kening Vina. Vina fokus membuka kemasan pop mie rasa sotonya. Mau nambah lagi dia. Entah itu sudah pop mie yang keberapa. Vina melirik kearahku. Tersadar dia kalau saya memperhatikannya dari tadi. Dia tertawa. Menutup mulut. Itu khasnya.
 “ini pop mie yang terakhir bro..” tersipu dia.
          Saya berdiri. Pamit untuk keluar dari lingkaran. Waktu 10 menit akan kumanfaatkan untuk menelpon turun kampung. Kemarin saya belum sempat memberitahukan ke orang tua dikampung tentang kepergianku untuk praktek lapangan ini.  Saya melangkahkan kaki. Masih sempat kulihat Budi berusaha membuka bumbu minyak mie–nya. Pake gigi. Begitu terbuka bumbu minyaknya muncret. Muncret-nya kearah kahfi. Kahfi menghindar. Refleks. Selamat. Untung dia punya inoujutzu. Saya senyum sendiri sambil berlalu. menyapu aula dengan sekali pandang. Ada majelis makan dimana-mana. Sebagian besar kumpul dengan teman kelasnya saat semester 1. Teman yang berkesan. Canda. Tawa. Ceria, meski hanya makan mie instan. Itulah indahnya kebersamaan. Bukankah kalian sudah pernah mendengar seorang penyair berkata : garam akan terpanggang menjadi madu dalam wajan kebersamaan. Atau lubang jarum ketika bersama teman-teman tercinta akan terasa seperti padang lapang nan luas. Atau ingatkah kalian pada puisi yang ditulis oleh rekan kita begitu ia kembali dari temu pisah tempo hari. Puisi yang banyak menceritakan tentang ajaibnya kebersamaan. Saya masih ingat betul. Utamanya pada bait ini :
Teman....
Dengan kebersamaan
Kita mampu mengubah lumpur serasa lulur
Dengan kebersamaan
Kita mampu memindahkan surga ke hutan pendidikan
Dan dengan kebersamaan
Pengkaderan menjadi trauma termanis yang pernah kita rasakan

****
     Tundu’ ko !!
    Tundu’ko------                                                                                                                                      (sebenarnya, digaris-garis mendatar itu saya tulis kata ------, tapi karena sebelum di upload tulisan ini sudah melewati proses “penjernihan” oleh lembaga sensor cerpen dulu, makanya kata------ itu diganti menjadi garis-garis mendatar. Agar lebih sopan.)
 Kata-kata yang menyambar dari mulut para senior itu merobek hening yang menyelimuti malam di hutan pendidikan Unhas. Sebenarnya kita sudah tunduk dari tadi. Sejak turun dari mobil malah. Hanya mungkin karena pekatnya malam yang membuat mereka tak melihat kepala kita yang menunduk, ataukah memang mereka sengaja, pura-pura tak melihat sehingga setiap mereka yang datang selalu saja dua kata itu (atau sejenisnya) yang dibentakkan ke telinga kita. Dan kemungkinan kedua itulah yang membuat sisi gharizatul baqa’( naluri untuk mempertahankan diri) dalam diriku muak mendengarnya. Karena parner, ini bukan persoalan lihat tidak lihatnya, tapi ini persoalan prinsip yang mereka bahasakan dengan : yang penting marah dan membentak!!.  
****
Kelompokku baru tiba dan langsung masuk dalam barisan. Bergabung dengan kelompok lain yang lebih dulu sampai. Kami tetap mengekor dibelakang ketua masing-masing. saya off kan hetlem di kepala. Cahayanya sudah tak terlalu dibutuhkan karena disini sudah ada lampu penerang. Walau hanya satu. Topi rimba saya biarkan menggantung di leher. Baju bakau dan trening hitam yang melekat di badanku berembun karena dingin. Kakiku sampai betis masuk ke tanah berlumpur. Carier merek Rei dengan badcover orange mendekapku dari belakang. Entah carier milik siapa. Tadi semua carier ditumpuk disatu tempat, kemudian perorang disuruh mengambil sembarang. Tak boleh ada yang mengambil cariernya sendiri.
Satu tepukan keras mendarat dipundak kananku, di susul dengan kalimat:
“ Jangan ko melamun!!”
Seorang senior dengan setengah berlari menyerempet barisan kelompokku dari depan sampai belakang. Saya oleng. Tak mampu mempertahankan keseimbangan. Masih dengan kalimat yang sama:
“ Jangan ko melamun!!”
Melamun adalah hal yang pantang untuk dilakukan pada saat itu. Namun di bawah tekanan mental begitu, apa ada yang masih sempat melamun?
Rahang gemetar.
Dingin semakin menusuk-nusuk tulang.
****
“ satu..!!”
Korlap melepas hitungan. Suaranya seperti pistol yang ditembakkan ke udara. Perjuangan di mulai. Push-up di atas  tanah berlumpur dengan carier 80 liter di punggung adalah mimpi buruk yang kenyataan malam itu.
“ Dua..!!”
Kepalan tanganku membenam dalam. Menekan dengan sisa tenaga yang ada. Mendongkrak badan plus carier 80 liter sambil menahan nafas dan menurunkan sambil mendengus tanda tak kuat.
“ Tiga..!!”
Saya melihat ke sekeliling dari sudut pandang posisi set. Berpasang-pasang kaki para senior mengepung. Saya tak berani mendongak dan menatap wajah mereka. Sebab kalau itu kulakukan – Duss!! Seorang senior menendang genangan air kearah wajah teman disampingku, disusul dengan bentakan : “Apa muliat!?”- maka itulah konsekuensinya. Teman kita itu meringis. Matanya perih kemasukan pasir.
Pandangan kubiarkan melata diatas tanah berlumpur itu sampai ke tepi. Genangan-genangan air yang membiaskan cahaya lampu, tenda-tenda yang samar di kejauhan, bayang-bayang pepohonan tinggi, dan bintang-gemintang yang bertengger rendah. Sebuah pemandangan yang cukup untuk menyita perhatian kalau saja kita sedang tidak dalam suasana pengkaderan
“ Stengah..!!”
Dan inilah bagian paling mematikan. Saat persendian sikumu sempurna membentuk sudut 90 derajat. Kau harus diam disudut itu, menahan berat badan dalam waktu yang sengaja dilama-lamakan.
“kalasi mo ko!!” korlap berseru menang. Kemarin-kemarin memang saat kita masih menjalani pra kegiatan ini, jika hitungan push-up sampai pada stengah, banyak diantara kita yang kalasi yaitu tidak menahan badan tapi membiarkannya turun menyentuh tanah. Tengkurap. Kalau sekarang?!! Siapa yang berani tengkurap di atas lumpur yang siap membenamkan badan
 saya menahan badan agar tak sampai menyentuh lumpur di bawahnya. Seorang senior datang dan menindis carierku. Saya mengerang dibalas dengan bentakan : “turun lagi!!” oleh si senior.  Tak sanggup ku tahan lalu dagu, dada, perut dan lututku sempurna mendarat diatas lumpur. Kurasakan geli dan dingin saat lumpur itu menjilat kulitku.
“ Sembilan..!!”
****
Pucuk tenda itu hanya setinggi dada kami. Bentuknya seperti segitiga sama kaki. Atapnya terpal dan lantainya tanah berlumpur. Kalau kami masuk penat leher sampai punggung karena membungkuk. Usai menjalani prosesi penyambutan, kita digiring ke tenda itu. Perempuan di tenda terpisah. Semua carier di masukkan ke tenda. Diatur berbaris dua-dua sepanjang bagian tengah. Kita menggelar matras masing-masing untuk di jadikan alas tidur. Kubuka sepatu lapanganku. Lumpur sudah mengendap disana. Kurasa kuku ibu jari kakiku akan bernanah lagi setelah hari ini. Sekujur badan lembab. Bau keringat berkolaborasi dengan bau lumpur menyeruak masuk hidung. Beberapa senior datang, berpatroli disekitar tenda, menengok ke dalam sambil meneriakkan semacam ultimatum agar kami lekas tidur. Demi mendengarnya teman-teman yang masih duduk segera berbaring ke matras. Menggeliat untuk mencari posisi yang nyaman, meski mereka tahu kalau usahanya tak akan berhasil. Malam semakin menepi. Sebentar lagi matahari datang. Kita bergidik. Mengingat, betapa kerasnya hidup yang akan kita jalani di bawah sinarnya siang nanti.
****
“woiii….”!!
Suara itu menyergapku dari belakang. Membuyarkan lamunan panjangku tentang malam pertama temu pisah kita dulu di lapangan yang kini menghampar di depanku. Sejatinya suara itu ingin membuatku kaget. Sayang, saya tidak kaget sama sekali. Namun kucoba untuk tetap menghargai usahanya dengan sedikit berpura-pura kaget sambil menoleh kearah sumber suara itu datang. Ternyata Kahfi.
Dia kemudian berdiri disampingku, merangkul leherku dengan tangan kanannya, mengikutiku menatap formasi rumput yang melambai-lambai diterpa angin di kejauhan sana.
“siapa lagi mu pikir sotong..??” katanya melempar topik pembahasan. Pelan dia melirik kearahku. Tatapannya coba men-sekak.
“ kepo’ sekali ki cowok. Biar lagi urusan pribadiku ta burengi juga.!!” Kulepaskan diri dari rangkulan tangannya. Berjalan menjauh.
Matahari masih bersembunyi dibalik tajuk-tajuk pepohonan. Sinarnya yang tembus melalui celah-celah rimbun dedaunan membentuk garis-garis putih seperti laser. Baru saja kita sampai di bibir sebuah lapangan. Posisinya yang terletak ditengah-tengah hutan membuat keberadaannya menjadi unik dan nampak seperti stadion sepak bola. Kini lapangan itu menghamparkan permadani hijau nan meneduhkan mata. Berbalik 180 derajat dari kondisinya saat pertama kali kita menginjakkan kaki dilapangan itu, jum’at 23 februari lalu.
Sebelumnya kita memulai perjalanan dari aula Eboni. Setelah mendapat arahan dari para asisten tentang apa-apa yang akan kita lakukan nantinya, kita mulai digiring menuju tegakan pinus. Arak-arakan seperti orang kawinan. Tumpah ruah menyusuri-menurun dan menanjaki jalan yang diapit pohon-pohon tinggi. Kira-kira 20 menit perjalanan, akhirnya kita sampai di lapangan itu. Lapangan yang bersejarah bagi kita. Lapangan yang menjadi saksi bisu saat kemerdekaan kita dirampas dalam bingkai pengkaderan. Lapangan yang kala menatapnya, semua episode-episode memilukan itu seperti di putar kembali disana.
Beberapa dari kita tumpah menyeruak masuk ke lapangan itu. Berlari-lari ringan seperti anak kecil menyambut hujan turun. Entah apa yang ada dalam pikiran kalian. Sampai disana sebagian ada yang mencari-cari background yang pas di hati untuk fose-nya didepan kamera. Saya tersenyum menyaksikan itu. Kahfi mendekatiku. Menggoda ngawur. Tak ingin meladeninya saya menjauh. Ikut masuk lapangan. Kahfi mengejar. Coba dampingi langkahku. Tangan kanannya merangkul lagi pundakku.
“ Saranku, mending kau tembak mi hari ini..!” Ia membisikkan itu lirih ke telingaku. Saya berhenti. Semakin ngawur saja anak mandar itu. Kukerutkan kening kearahnya. bertanya: “siapa lagi mu maksud sotong..??”  
“ Elleeeeh…” Dia menyeringai. berlagak menang.
Mengajakku meneruskan langkah.
“ Dari tadi ko kuperhatikan lirik-lirik terus itu sana e..” Ia menunjuk dengan isyarat mata. Arah jam 3 dari kami. Saya menurut saja. Kulihat. Disana Ani sedang memotret 3 diva jebolan kelas D : Hikma, Tri dan Suci diatas bekas panggung sylvaria kita dulu. Suci mengeluarkan gaya andalannya yaitu senyum memperlihatkan gigi-giginya sambil kedua tangan diletakkan di kepala sebagai telinga kelinci.
“ Yang pegang kamera..!!” Ia memperjelas wanita yang dimaksud
Ani..!?
“ Wee Bro..” Kahfi menahan langkahku. “ sekarang itu moment yang tepat. Besok-besok kalau ada yang tanya dimanako tembak pacarmu. Bisa ko jawab di hutan pendidikan. Kan keren..iya toh!?”
Kahfi terus mengoceh. Saya tak menghiraukan.
Beberapa orang asisten lewat mendahului kami. Menegur yang masih asyik berfoto-foto. Menyuruh agar lekas meneruskan perjalanan ke tegakan pinus. Seorang wanita teman angkatan kita mengekor dibelakang asisten tadi. Rambutnya dikuncir rapi. Selvina taemin. Kupanggil. Cuek saja dia. Aiiii. Sombong. Kutinggalkan Kahfi. Membiarkan dia dengan semua pikirannya yang macem-macem tentangku. Saya tak peduli. Toh, saya memang tidak macem-macem. Kudekati vina. Kahfi mengikut.
“ annyi waseo..”
Tak ada respon.
“ Tumben sendiri. Mana predator yang lain?”..
Vina berbalik. Keningnya berkerut menatapku.
“ yaa..predator. perempuan dari tator “. Kujelaskan maksudku. Ia tertawa. Melayangkan lemah cubitannya. Kahfi juga tertawa.
Didepan sudah tepi lapangan. Kita akan masuk ke hutan lagi. Saya berbalik. Dari arah kita datang kulihat masih ada teman-teman yang baru akan turun kelapangan. Rumput-rumput yang masih basah karena hujan tadi pagi melambai-lambai ditiup angin. Menyambut dalam bisu.
“ hee..vina!”
“apa..?”
“ kau dapat salam dari lapangan BA..!” kukatakan itu sambil mengajak vina ikut berbalik dan menatap lapangan yang baru saja kami lewati.
“ O..ya. apa dia bilang?”
“ Dia bilang usahakan periode ini kau ikut BA juga!!”
Vina hanya tersenyum. Kemudian berbalik-naik-bergegas masuk hutan. Saya mengikut. Pertanyaanku memburu.
“ Balas ki tawwa. Apa mau mu bilang?”
Vina go ahead.
“ nda perlu. Sudah mi kubalaskan pakai namamu vina” Kahfi menyahut. Setengah berteriak.  Ternyata dia mengikuti pembicaraanku dan vina dari awal.
Vina menengok ke Kahfi. Bertanya.
“ Apa mubilang.?”
“ kubilang..nantilah diliat. Kalau benar-benar sudah dijadikan 1 SKS..”
HAHAHA. BUREENG.
****
Dalam perjalanan menuju tegakan pinus selanjutnya, beberapa kali saya terjatuh. Benar kata Kevin. Mataku memang melihat jalan tapi pikiranku menerawang. Jauh…
Ini masih selalu tentang wanita itu parner. Masih tentang rindu yang menganga dalam dada karena tak terbalas.
****
Jam 9 lewat. Nda’ tau lewat berapa.  kita sampai di tegakan pinus. Matahari mulai tinggi. Begitu sampai semua kepenatan ditebus oleh indahnya pemandangan disana. Pinus-pinus menjulang tinggi mencakar langit Limampoccoe. Menebar wibawa dengan baju zirahnya yang diuntai dari jarum-jarum klorofil. Batang-batangnya yang kokoh Nampak seperti ular yang habis menelan linggis raksasa, kemudian jatuh teratur dan menghunjam ke tanah pegunungan ini.
Di seberang lembah, gunung-gunung yang puncaknya tidak lebih tinggi dari tempat kita berdiri nampak jelas ditutupi oleh pohon-pohon yang bertengger rapat. Tajuknya bergumpal-gumpal. Meneduhkan kala dipandang dan menggerakkan lidah untuk lirih bersenandung:
Rimba raya rimba raya
Indah permai nan mulia
Maha taman tempat kita bekerja…………
Adalah bukan yang pertama kalinya saya menyambangi tegakan pinus itu. Sebagian dari kalian juga. Maksud saya yang ikut temu pisah. Masih ingat kan? Saat itu kita memanggang telapak kaki kita di atas nyala  parafin, namun kaki-kaki yang telah memucat dan mengkerut karena dingin sudah menghisap darah darinya itu tidak merasakan apa-apa kecuali kehangatan. Di tegakan pinus itu juga dulu  kita disambut oleh senior-senior dengan hangat seperti bapak-bapak yang menyambut anaknya yang baru pulang disunat. Padahal sekitar 13 jam sebelumnya, senior-senior itu jugalah yang meneriaki, mengejar dan memukul-mukul mobil tentara yang membawa kita datang, seolah mereka adalah buaya-buaya yang kelaparan dan kita adalah daging ayam yang dibawa untuk mereka.
“ istirahat mi dulu dek, silahkan dimakan snek-nya. Nanti kita akan turun lagi ke jalan yang tadi. Jatah setiap kelompok 100 meter dan itu diukur dari sini  !!
****
Cinta itu tidak menyakitkan. Yang menyakitkan itu ketika kita mencintai wanita yang tidak mencintai kita.

Tegakan pinus. 15 menit kemudian.
Sejak hatiku tertawan olehnya, saya mulai menggeluti hobi baru : MELAMUN. Segala tentang dirinya seperti magnet yang menarik alam khayalku. Lebih gila lagi saya menjadi cinta dan sayang pada semua hal yang ada kaitan dengannya. Hal  itu makin kusadari pagi tadi. Saat kudengar, Suci memiliki gantungan boneka kayu kecil cantik di tas ranselnya. Katanya adalah barang kesayangan wanita itu yang direbut paksa oleh Suci. Maka diam-diam saya mengambilnya saat Suci lagi asyik makan.  Tak ada yang tahu. Kecuali Allah, malaikat pencatat dosa dan iblis (laknatullah alaih). Bagiku, memiliki gantungan itu bisa sedikit menghibur hatiku yang tak bisa memiliki pemilik gantungan itu.
 Saya pernah mendengar tentang Qais. Apa yang menimpanya kira-kira tak jauh beda dari apa yang menimpaku sekarang. Hanya dia lebih parah. Penyakit cinta yang dideritanya sudah masuk stadium 4. Semua hal yang berkaitan dengan Laila-kekasihnya- akan disayanginya. Seperti dikisahkan ketika ia melihat seekor anjing dan ia yakin anjing itu berasal dari kota kekasihnya, Laila. Maka ia langsung mengasihi anjing itu. Di lain waktu saat  ia menatap langit malam, ia mengira-ngira bintang mana yang tepat berada diatas rumah kekasihnya, Laila. Ketika dapat, ia kemudian memandangi bintang itu terus.
Qais juga menggubah syair-syair yang maksudnya sama. Seperti:
Ketika aku melewati kota laila
Aku mencium setiap dinding dan lorong-lorongnya
Sebenarnya bukanlah kecintaan pada kota itu yang menggetarkan hatiku
Namun kecintaanku pada seorang wanita yang tinggal didalamnya
Dan yang ini:
Pernah seseorang bertanya kepadaku: apakah engkau mencintai Laila?
Aku berkata: jangankan dirinya, debu-debu sekalipun yang menempel disandalnya
Lebih aku cintai dari dunia dengan segala isinya.
Gila. Dan memang itulah panggilan orang-orang dimasanya pada Qais: Majnun. Seorang ulama berkata: orang yang sedang di mabuk cinta itu, maka gilanya lebih gila dari orang gila. Namun  parner, saya tak ingin nasibku sama tragisnya dengan nasib Qais. Dan saya lebih-lebih tak ingin nasib wanita yang ku sayangi itu sama dengan nasib Laila. Anda tentu tahu kan bagaimana akhir cerita cinta antara Qais dan Laila. Keduanya mati karena terbakar oleh panasnya api cinta yang tak dipertemukan.
 Paling cocok melamun dengan mengisolasi diri. Maka hari itu saya menghindar dari kalian, dari Suci yang tak henti-henti bicara dan kalau bicara nada dasar suaranya G. langsung reff. Dari Dara yang kalian ajari mengucapkan huruf R dengan benar, dari Irwan yang jail menghitung tahi lalat di wajahnya kiki tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, dari Ayu mendila yang curhat tentang “kakak” keren-nya, dari Budi yang narsis saat kamera dibidikkan kearahnya, dari Ali yang terus mencolek-colek  daerah paling pribadi yang kumiliki, dari kahfi yang masih terus menghubung-hubungkan saya dan Ani dengan istilah HHBK, Hatiku-Hatimu Bertemu di Kehutanan, dari Babra, Jihan, Vivin, Rilya, Dian FM, dan Beatrix yang membuat heboh kabar miring dari kahfi. Dari Fai yang dengan bangga bercerita bahwa saking fansnya sama Cristiano Ronaldo sampai-sampai kalau ke warung ayam lalapan dia selalu pesan sayap kiri.
Kutinggalkan kalian. Menjauh..
Saat saya menulis ini, kata ini, huruf ini, dan tanda koma ini , bersamaan dengannya seorang wanita baru masuk ke sekretariat  BEM. Di luar gerimis-gerimis romantis. Wanita itu tersenyum ke seorang laki-laki yang duduk di pojok ruangan. Yang disenyumi segera membalas dengan senyum kemudian kembali menatap layar laptob di pangkuannya. Jemari laki-laki itu terus menari diatas keyboard laptobnya. Wanita itu adalah Mira. Teman angkatan kita. Dan laki-laki di pojok ruangan itu adalah saya yang lagi sibuk menulis ini. (punggungku sakit. Sudah terlalu lama saya membungkuk. Mata capek. Kuletakkan labtop ke lantai. Saya berdiri, merenggangkan otot-otot. Kutanya Mira apa tim Bakau 48 sudah bertanding. Dia bilang belum.)
“ minta air mu sedikit..!”
Saya menoleh. Lamunanku buyar. Ada orang yang minta air. Ternyata Fai. Kuberikan botolan  aqua ditanganku yang masih berisi air setengah. Dia menerima dan mengatakan “Danke”. Kubalas dengan senyum.
Kutarik nafas. Menyegarkan memang menghirup  aroma khas yang di hembuskan hutan pinus. Benar kata penelitian yang mengatakan kalau pinus dapat meredakan pilek, sinusitis, dan asma. Dan hari itu sudah kubuktikan sendiri kalau penyakit asma karena rindu yang kuderita sedikit teredakan.
“kucari-cari ternyata disini ko pale….menyendiri.” Fai memukul-mukul pundakku. Dia belum meminum air yang kuberikan.
“ko tau kalau serigala itu hanya menyerang domba yang sendiri…” kini ia berlagak bak mahaguru yang menyampaikan petuah ke muridnya.
Dia membuka tutup botol Aqua yang kuberikan.
“ tapi serigala tidak akan menyerang domba yang sedang dihantam rindu” Kalimatku mengisyaratkan kalau saya ingin curhat.
“kenapa?”
“karena itu melanggar undang-undang dunia perserigalaan”
“Haha..kau tambai-tambai lagi. Jangan sampai hadist nabi itu. Berdosa ko. Istigfar ko cepat!!”
Buah-buah pinus kering berserakan diatas serasah daun jarummnya. Meski tak kulihat, tapi ku tahu prajurit  mikroorganisme sedang berjuang disana untuk menaklukkan asam yang ditimbulkan oleh kandungan lignin dan ekstraktif  pada serasah itu. Seperti saya yang masih berusaha untuk menaklukkan hati wanita pujaan. Kuambil satu buah pinus yang paling dekat dari kakiku. Meraba lembut sisik-sisiknya. Pikiranku tak disana.
Fai mendongak. Menuangkan air dalam botol kemulutnya. Meneguk sampai tiga kali. Jakunnya naik turun. Kutanya fai.
“ Fai, pernahko jatuh cinta sama seseorang…!!”
Perasaan cinta dan rinduku pada wanita itu yang membuncah-buncah didalam dada, kini meletup-letup diujung lidahku. Tak mampu kutahan. Seperti saat kebelet pipis. Butuh seseorang untuk jadi tempat curahan.
Fai menyudahi minumnya. Sambil minum tadi kuyakin dia mendengar betul apa yang kukatakan. Dia menatapku. Lama sekali. Kemudian tersenyum lalu minum lagi. Aiii…
“tunggu dulu…” katanya kemudian setelah menyudahi minumnya. “ Apa defenisinya itu cinta kah???”
****
“Tak diragukan lagi kalau media, entah itu televisi radio, majalah, surat kabar dan kawan-kawannya memiliki andil terbesar dalam membuat istilah cinta menjadi familiar di kalangan kita!”Kalimat Fai mengalir sangat diplomatis. Ia berlagak bak pemateri di seminar-seminar nasional.
“Dan ekspansi usia yang dilakukan oleh media dalam mensosialisasikan cinta itu tidak hanya berhenti di kalangan kita. Sekarang anak-anak usia remaja hingga usia belia pun turut mereka ajak “bertamasya ke pulau” cinta
Kali ini dengan sentuhan puitis
“Kau tahu kalau baru-baru ini kudengar, ada anak SD kelas 4 yang mengirimkan surat cinta ke teman kelasnya. Isinya adalah ancaman kalau si teman itu tidak menerima cintanya, maka ia akan gantung diri di pohon tomat. Hehe, bukan dirimu yang kau bunuh, tapi pohon tomatlah yang mati.
Sedikit lebih humoris.
“Bro, kau pikir siapa yang mengajarinya menulis surat seperti itu. Bapaknya? Ah, tidak mungkin. Guru ngaji? Mustahil ada. Kau tahu apa???
Bertanya retoris..
“Televisi bro, televisi.” Selorohnya, tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab lebih dulu.
“Namun bukan itu yang akan kita bahas sekarang. Bukan peran media yang memperkenalkan cinta terlalu dini pada generasi muda bangsa. Itu hanya sekedar pengantar. Tapi sesuatu yang lebih penting dari itu. Sebuah kata yang takkan habis dibicarakan sepanjang waktu, kata yang akan terus laku di jual dalam dunia cerita, dunia layar, dan dunia nyata. Ialah : cinta.
Mendengar Fai mengatakan cinta, hatiku berdesir. Bayangan wanita itu berkibar hebat di ingatanku. Semilir angin membelai lembut tajuk pinus-pinus. Kudongakkan kepala dan kulihat ke atas. Batang-batang pohon pinus yang menjulang seperti saling merangkul. Beberapa buah pinus jatuh, terjun bebas di udara, menghantam serasah. Terpantul 2 kali dan ada yang berhenti tak jauh dari kakiku.
 “oke. Baiknya di mulai dari mana?”
Saya kembali fokus pada Fai. Pertanyaannya barusan itu lebih untuk dirinya sendiri.
“Kayaknya isi buku “udah putusin aja!” Karya bang Felix menarik untuk kita angkat dalam perbincangan kita ini. Kau pernah dengar tentang dia, parner??”
Saya menggeleng.
“Baiklah. Is no what-what.
“Disini, saya hanya akan berperan sebagai buku “udah putusin aja!” yang berbicara kepadamu.!”
“oke.., tapi sebelum kita mulai, saya minta air minum dulu bro”
Kuberikan botol air minumku lagi. Fai menerimanya. Mendongak dan menuangkan isi botol kedalam mulutnya. Terdengar ngguk…ngguk…ngguk..saat air itu melewati kerongkongannya. Segerrr
Alhamdulillah,…oke, sampai dimana tadi?” kata Fai sambil mengembalikan botol air minumku.
“ Sampai di minta air minum dulu bro!” kataku mantap.
Kami tertawa.
 “Jadi cinta!” Fai memulai persentasenya. “ cinta ditemukan atas semua hal. Atas nama cinta banyak orang memperoleh kebahagiaan, atas nama cinta pula banyak orang menuai luka nestapa. Karena cinta seorang yang gagap tiba-tiba menjadi puitis, karena cinta pula seorang ahli sastra seolah seperti anak kecil yang baru belajar bicara”
“Cinta bisa membuat seorang pengecut menjadi pemberani, membuat yang paling berani jinak dihadapannya. Demi cinta tak ada lautan yang tak bisa diseberangi, tak ada gunung yang tak bisa didaki, dan tak ada rimba yang tak bisa disusuri
“karena cinta, pembunuh akan jadi penyayang paling baik. Cinta pula yang memberikan harapan kepada yang putus asa.”
“sungguh mulia cinta, ia putih, suci bersih tanpa noda. Cinta adalah kasih sayang yang tulus, yang diberikan pencipta kita, Allah Swt. Dialah sumber segala kasih sayang dan cinta yang ada dipermukaan bumi dan langit serta yang ada di antara keduanya. Allah-lah yang berkehendak menjadikan setiap akal dan hati kita cenderung pada perasaan yang saling menyayangi, saling membutuhkan. Bukan hanya butuh dicinta, tapi juga butuh untuk mencinta. Cinta adalah fitrah manusia. Tanpa cinta takkan lengkap keberadaan kita sebagai manusia, takkan sempurna kita sebagai makhluk Allah.
“sejak awal penciptaan kita pun, cinta telah berperan disana. Manusia dimulai dari ketiadaan, ruang kosong tanpa waktu, lalu Allah berkehendak menjadikan kita dengan cinta-NYA. Ditiupkan-Nya ruh kepada kita, yang bisa membuat kita ada. Yang membuat kita bisa merasakan lezatnya hidangan yang kita santap, sejuknya udara saat hujan mereda, dan membuat semua indra kita bisa berfungsi. Tanpa kehendak Allah dan tanpa se izin-Nya, mustahil semua yang ada pada diri kita bisa kita nikmati. Mustahil.
“dan yang tak kalah pentingnya dari itu..cinta adalah pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah menanamkan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa cinta-Nya kepada kita agar kita berfikir tentang-Nya.
“yah itulah cinta parner…,kau masih mendengarku kan??
Fai menyadarkanku dari buaiaan kata-kata indah yang mengalir dari lisannya.  
Saya mengangguk.
“sepertinya kau banyak tahu tentang cinta.?” Kutanya Fai.
“ah..justru saya merasa tidak tahu apa-apa tentang itu. Kecuali hanya sedikit.” Jawabnya merendah
“ baiklah…yang tadi itu pembahasan cinta secara umum. Sekarang kita akan mengkerucutkan pembahasan ke skala cinta yang lebih khusus. Seperti cinta yang kau rasakan saat ini. Dan sebenarnya saya juga selalu merasakannya.
Kuperbaiki posisi dudukku yang sebenarnya sudah baik. Sesuatu yang lebih seru akan segera mencuat kepermukaan.
“Kita manusia biasa yang memiliki cinta, tiada yang salah karena cinta adalah anugerah. Justru cintalah yang memanusiakan manusia, mewarnai kehidupan dan menerbitkan harapan. Tiada masalah ada cinta pada manusia dan tiada pernah pula Allah karuniakan selaksa cinta untuk menyiksa. Allah turunkan cinta agar dua insan dapat bersama dalam satu bahtera asa. Allah jadikan rasa cinta antara jenis yang berlawanan, sama seperti Allah jadikan rasa cinta manusia terhadap apapun yang diinginkan didunia.
“Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Qur’an surah Ali Imran ayat 14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
“Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia dalam penciptaannya telah dihiasi oleh nafsu dan keinginan. Dengan kata lain, tabiat manusia adalah condong kepada keindahan.
 Berarti jatuh cinta itu adalah manusiawi??
“yah..memang itulah faktanya. Seseorang pernah berkata kepada Mu’adz Ar-Razi:”anakmu telah menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita.” Mu’adz menjawab. Alhamdulillah, Allah telah memberikan tabiat manusia kepadanya.
“siti Fatimah r.ha pernah berkata kepada Ali Bin Abi Thalib r.a, suaminya.” Wahai Ali, sesungguhnya sebelum menikah, ada laki-laki di kota mekkah ini yang sangat saya kagumi.” Kata Ali r.a:”Jadi engkau menyesal menikah denganku”.”Tidak, karena laki-laki itu adalah kamu”ujar Fatimah r.ha
“Dan masih banyak lagi kisah serupa yang datang dari pemuka-pemuka islam. Intinya islam mengakui eksistensi cinta terhadap lawan jenis. Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Akan tetapi, cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan dan kekotoran. Cinta pada lawan jenis bukan sesuatu yang kotor. Bahkan ia adalah sesuatu yang suci.
            Matahari makin tinggi. Seberkas sinarnya yang menembus tajuk pinus mentok di wajah Fai. Jerawat-jerawat kecil yang bertebaran dikening Fai jadi jelas olehnya. Fai menggeliat. Mencari naungan.
            “Sampai disini apa ada yang mau kau tanyakan?” Fai bertanya kepadaku, segera setelah ia mendapat naungan tak jauh dariku.
            Saya menggeleng. Tapi sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan.
            “ Sebagai lelaki dan wanita yang normal, wajar jika rasa cinta muncul diantara keduanya. Apalagi dengan pola interaksi kita sehari-hari yang dikemas tidak secara islami. Dimana lelaki dan wanita yang bukan mahram bisa dengan leluasa berteman dan bergaul.”
            “Namun, ini yang terpenting. Kau camkan ini. Bukan berarti ketika Allah mengaruniakan rasa cinta sebagai fitrah kepada manusia, lantas kita bisa mengekspresikan sesuai kehendak kita, seperti apapun yang kita inginkan. Ada masanya, ada caranya, dan ada aturannya. Karena itulah, islam diturunkan oleh Allah.  Supaya kita tetap menjadi manusia, bukan hewan yang bebas berekspresi saat mereka jatuh cinta.”
            “lihatlah masyarakat barat yang umumnya lebih bebas mengekspresikan cinta. Akhirnya cinta menjadi sesuatu yang tidak lagi sakral dan romantis, kecuali tersisa dalam film-film saja. Pada kenyataannya, mereka menyamakan antara cinta dan hubungan badan.”
            “Islam memandang cinta itu agung dan suci, karenanya perlu diatur, dan aturannya tidak tanggung-tanggung, langsung dari pencipta manusia. Allah Swt.
            “Dan aturan islam itu sederhana.
            Fai berhenti. Menarik nafas. Ia sengaja melakukan itu. Membuatku penasaran menunggu kalimat berikutnya.
            “Bila cinta. Datangi walinya. Dan menikahlah..
            Angin sepoi berhembus. Menghamburkan aroma khas pinus.
            “Dan bila belum siap. Maka persiapkan dulu dirimu dalam diam. Karena islam tak mengenal hubungan-hubungan pra-pernikahan semisal pacaran dan pertunangan. Bahkan dengan tegas islam mengharamkan interaksi semacam itu.”
            Itu bukan pertama kalinya saya mendengar larangan berpacaran. Berkali-kali telah kudengar hal itu keluar dari mulut para ustadz. Namun entah kenapa, hal itu terkesan beda ketika saya mendengar Fai yang mengatakannya langsung didepanku. Seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku. Tersentak.
            “Kenapa bro..kau tidak terima saya mengatakan pacaran itu Haram.?Fai bertanya kepadaku
            Hening.
            “Bukan saya yang mengatakan itu. Tapi Tuhanmu. Tuhanku. Tuhan kita, Allah Swt. DIAlah yang menciptakan kita. Jadi DIA lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Makanya DIA menurunkan agama untuk menuntun kita kearah yang terbaik untuk kita.”
            “Islam adalah agama yang memuliakan manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi pada manusia itu sendiri. Cinta yang tak semestinya, cinta yang tak halal, itulah jenis cinta yang merusak.”
            “Kau tahu kalau dengan agama, garis perbedaan antara kita dan hewan menjadi jelas. Dalam hidup ini kita butuh makan, hewan pun begitu. Namun apa yang membedakan kita dengan hewan. Ialah agama yang ada pada kita. Agama mengajarkan kita bagaimanakah adad-adab dalam makan. Begitu juga dengan kecenderungan kita pada lawan jenis. Hewan juga merasakan hal itu. Namun agama mengajarkan kita bagaimanakah cara-cara yang baik. Yaitu itu dengan menikah. Sehingga ketika kau mengekspresikan cinta yang kau rasakan dengan cara pacaran, saling berpegangan tangan, berciuman, hingga berhubungan badan, maka sejatinya kau tak ada bedanya dengan hewan. Bahkan mungkin derajatmu lebih rendah dari hewan. Karena kau dikarunia akal untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sementara hewan tidak.”
            “Bro, hanya dengan menikah, maka segala hasrat seksualmu bisa tersalurkan secara halal. Hanya dengan menikah, maka kau akan menjadi manusia dihadapan cinta yang kau rasakan. Karena dengan pacaran, kau hanya akan menjadi hewan bersama cinta  yang kaurasakan.”
            “Sekarang…apakah kau mencintai dia?”
            Fai menungguku menjawab.
            “Jawablah dengan jujur..!”
            Lama saya terdiam. Kemudian pelan mengangguk.
            “Apakah kau siap menikahinya?”
            Mau tidak mau saya menggeleng. Memang itulah faktanya.
            “kalau kau mengajaknya berpacaran. Dan ternyata dia bukan jodohmu. Maka kasihanlah dia. Karena dalam hubungan pacaran, pihak yang paling dirugikan adalah wanitanya. Bagaimana bisa? Dengarlah..,saat kau memacarinya, tak ada yang bisa menjamin kalau kau tidak akan menyentuh mahkotanya yang paling berharga. atau minimal berciuman dengannya. Karena masa muda adalah masa dimana libido atau hasrat seksual menjadi berapi-api. Bagi pemuda kebanyakan hasrat itu akan disalurkan dengan onani, atau menonton film-film biru. Dan ketika ada pacar, maka ia berpotensi untuk menjadi tempat pelampiasan hasrat ini yang tak lagi puas dengan onani atau film-film biru saja. Maka jadilah keduanya tidak perawan lagi. Dan yang paling dirugikan tentu wanitanya. Karena keperawanan tidak akan kembali kepadanya lagi. Apalah arti wanita bila kehormatan telah dirampas darinya. Laki-laki itu dilihat dari masa depannya, sedang wanita itu dilihat dari masa lalunya. Dan sejahat-jahatnya laki-laki, dia masih menginginkan istrinya suci dimalam pertama. Lalu Apakah kau mau membuat wanita yang kau cintai itu menjadi demikian, bila seandainya dia bukan jodohmu..
            “dan kalau misalnya dia adalah jodohmu, maka dengarlah ini. Kalau toh kau bisa menjalin hubungan yang halal dengannya, maka mengapa kau ingin memulainya dengan hubungan yang haram..
            Hatiku basah mendengar uraian dari Fai. Nuraniku membenarkan semua yang diucapkan olehnya. Mengapa hal sesederhana ini baru bisa kumengerti sekarang. Apa karena selama ini saya telah dibutakan oleh nafsu. Kurasa benar kata orang, nafsu itu mengamputasi akal. Tapi cinta justru menguatkan akal.
            “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?” Lirih kutanya Fai
            “Cintai saja ia dalam diam. Apabila nanti engkau sudah siap menikah, maka lamarlah dia. Sesungguhnya itu lebih berkah bagimu.”
            “Tapi bagaimana cara menahan cinta yang terus menyala-nyala di dalam dada?”
            “ Rasulullah S.a.w mengajarkan, apabila engkau belum siap menikah, maka perbanyaklah berpuasa.”
            “Tak ada cara lain?”
            Fai menghela nafas
            “Cinta itu datang karena terbiasa, dan ia juga akan hilang karena pembiasaan. Awalnya semua itu hanya dari rasa kagummu kepadanya. Mungkin dari suaranya. Wajahnya. Atau sifatnya. Kekaguman itulah benih-benih cinta. Maka sebagaimana dengan benih, apabila kau terus merawatnya, menyiraminya, dan memberinya pupuk. Maka ia akan tumbuh menjadi pohon. Begitu juga dengan rasa kagum. Apabila kau terus memikirkan dirinya, semua hal yang baik tentangnya, maka rasa kagum itu akan berubah menjadi cinta. Maka cara yang harus kau lakukan adalah berhenti memikirkannya. Jangan dengarkan musik, karena itu hanya akan membuatmu tertarik untuk memikirkannya. Buatlah dirimu sesibuk mungkin, agar tak ada peluang bagimu untuk mengingatnya. Banyak-banyaklah mengingat Allah, membaca kisah-kisah Rasulullah SAW, sahabat, dan panglima-panglima islam. Insya allah semua akan membantumu”
****
Saat menulis kalimat ini, kata ini, huruf ini, dan tanda koma ini , saya ada diatas bus Gunung Rejeki yang melaju cepat membelah kota Palopo. Jalan lengang. Gelap sementara mengelupas si luar sana. Alam menunggu matahari 11 januari 2014 menurunkan sinarnya. Saya duduk dikursi nomor 17. Dekat jendela yang telah kubuka tirainya. Sesekali saya melemparkan pandangan keluar, melihat posisi bus sudah di daerah mana. Pohon-pohon dan rumah-rumah di tepi jalan berlari  cepat kearah yang berlawanan. Gerakan semu. Di depan perlahan masjid agung nampak dengan kemegahannya. Berwibawa.
Di sampingku, kursi nomor 18, seorang mahasiswa UVRI jurusan pertambangan angkatan 2009. Dia masih tidur. Membungkus sekujur badannya dengan selimut yang sudah disiapkan sepaket dengan kursi dalam Bus. Tadi malam saya sempat berkenalan dengannya. Saat Bus baru berangkat. Namanya Agil. Di Makassar kontrak rumah di Baruga Antang. Tujuan sekarang Pompaniki. Desa pertama dari gerbang Luwu Utara. Hanya itu.
Didepan kursiku, seorang ibu-ibu pakai kerudung bersama dua orang putrinya. Semalam saya juga sempat berbincang dengannya. Itu karena ia yang menyapa duluan. Putrinya yang baru kelas 1 SD-tadi malam ibunya bilang begitu-sekarang sedang berdiri di kursi dan menempelkan wajahnya ke jendela kaca. Takjub pada masjid Agung yang kini Bus sedang melintasi jalan didepannya. Polos. Matanya mengerjap-ngerjap. Bibir mungilnya merengek pada sang ibu agar singgah untuk Sholat di situ. Saya tersenyum menyaksikan dari belakang. Teringat saya pada Aini. Sepupu satu kaliku yang usianya baru empat tahun lebih. Bagaimana dia sekarang? Sudah hampir lima bulan saya tak melihatnya. Kudengar dari cerita-cerita kakakku di telpon katanya dia makin lucu. Tempo hari pernah kuminta kakakku memberikan handphone kepadanya. Saya mau bicara langsung. Dia hanya diam. Dan membuat semua orang diseberang telponku tertawa melihatnya. Saking gemes. Padahal menurut cerita kakakku Aini selalu bertanya-tanya tentangku, kapan saya pulang, apa kakakku sudah menyampaikan ke saya kalau dia sudah bosan ole-ole apel, lengkeng dan roti Maros. Dia sekarang minta boneka doraemon. Saya senyum-senyum sendiri mendengarnya. Aini. Ah, mengapa dulu mamanya meminta saya yang memilihkan nama untuknya.
Bus berhenti. Sebab mendengar suara tepuk tangan. Tepuk tangan adalah isyarat yang umumnya diberi penumpang apabila  tempat tujuannya sudah sampai. Seorang perempuan. Dua kursi didepanku. Berdiri dan bergegas turun. Sepertinya mahasiswa. Cantik dan seksi. Astagfirullah. Segera kubuang pandanganku keluar jendela. Coba mengenali daerah di luar sana. Balandai. Masih jauh. Rencana saya akan turun di Baebunta. Transit dulu di rumah nenek. Istrihat 5 jam. Baru lanjut ke desaku.
****
Sehari  setelah perbincanganku dengan Fai di tegakan pinus itu. Apa yang dikatakan Fai benar-benar membuatku galau. Menahanku dititik dilematis. Antara melaju maju atau mundur teratur. Hari senin saya ngampus. Tidak seperti biasanya. Saya jadi lebih banyak diam. Tugas laporan praktek lapangan ke Bengo kemarin yang menunggu untuk dikerjakan tidak kugubris. Seharian saya di sekretariat BEM. OL. Facebook. Baca buku. Main gitar. Menyanyikan lagu sepotong-sepotong. Sementara kalian lalu lalang. Sibuk mencari asisten.
Malamnya-masih di BEM-sekitar jam sembilan, setelah melewati pertimbangan panjang. Kuputuskan untuk mengirim pesan ke wanita itu. Sebuah keputusan telah kuambil. Ku awali dengan basa-basi. Saya ingin melakukan itu untuk yang terakhir kali padanya.
 Malam. Gi pa?
Kutunggu balasannya. Seperti biasa, lama sekali. Kak Dahri minta kutemani ke workshop. Beli air galon. Sampai pulang dari workshop, belum juga ada balasan darinya. kuambil gitar. kupetik. Baru intro lagu yang akan kunyanyikan, HP-ku bergetar. Ada pesan masuk. Kulihat. Hati ku bergetar. Balasan darinya.
Duduk.
Singkat. Selalu saja begitu sms balasan darinya. kutarik nafas. Kuketik pesan berikutnya..
Maaf. Kalau mungkin saya mengg..
Belum sampai maksudnya, kalimat di atas kuhapus. Ku putar kata-kata di kepalaku. Menyusun redaksi yang baru. Kuketik. Kubaca ulang. Terlalu lebay. Kuhapus lagi. Aiii. Mengapa kata-kata yang kususun menjadi serba salah. 10 menit berlalu. Akhirnya kuketik ini. Masih ingin basa-basi
Owh..
Di mana..??:)
Kuletakkan lagi HP-ku. Kuambil gitar. tidak kupetik, tapi kupeluk sambil terus melirik ke layar HP-ku. Menunggu balasan. Kutunggu 10 menit. Tak ada balasan. 5 menit kemudian. Masih belum ada. 2 menit berikutnya, HP-ku bergetar. Pesan masuk. Kubuka.
Anda slalu kalah dalam permainan togel?? Mbah sugeng……
Siaalaan. Umpatan kulepaskan ke udara. Senior-senior  menayakan saya kenapa. Tak kujawab.
Grrrrrrr
HP-ku bergetar. Kulihat. Balasan akhirnya datang.
Di hatimu;)
Saya berharap isi smsnya begitu. Tapi sayang, bunyinya lain..
Di sini..
Nyakk.
Tak berpikir panjang segera ku ketik ini. Kalimat yang sudah kupertimbangkan matang-matang  selama dua hari ini. Kalimat yang akan mengawali langkah yang tak pernah terpikirkan olehku sebelum perbincanganku dengan Fai tempo hari.
Kalau begitu Maafku yang sebesar-besarnya atas kata-kata dan tingkahku selama ini. Mulai dari detik saat pesan ini kukirim, saya akan berhenti meneror ketenanganmu. Kalau kamu masih menganggap pesan ini adalah modus dariku. Maka okelah. Ini modus terakhirku kepadamu.
Kukirim. Sudah itu HP ku nonaktifkan. Mungkin dia akan membalas dan mengucapkan terima kasih. Ku ambil gitar dan kubawa ke tempat warungnya aji Cia’. Disitu saya menyanyi sekeras-kerasnya. Tanpa kusadari air mataku meleleh. Apakah sudah sedalam ini cinta itu menghunjamkan akar-akarnya kedalam dadaku, hingga ketika hendak di cabut maka perihnya sampai ke  pelupuk mata?? Hati kutabah-tabahkan.
Pukul 12.50. saya kembali ke BEM. Senior-senior sudah pada tidur. Kulihat labtop kak Taufik masih menyala. Kusandarkan gitar ke samping lemari. Kuambil labtop kak Taufik. Ku buka akun facebook ku. Kulihat, teman-teman fb-ku masih banyak yang on line. Termasuk wanita itu. Tidak biasanya fb-nya masih aktif sampai selarut itu. Terus terang jemariku sangat gatal ingin mengirim pesan ke akunnya. Tapi saya harus komitmen pada janji yang sudah kuucapkan. Kutepiskan dia dari pikiranku. Sebelum kututup, kusempatkan untuk memperbaharui statusku.
Hati mu mungkin akan senang saat melihat wanita yang kau cintai bahagia
Namun, mampukah hatimu untuk tetap senang kalau ternyata dia berbahagia karena telah aman darimu
****
Besoknya, pagi-pagi. Saya mencari Budi. Ada senior yang mencarinya di sekretariat BEM. Ternyata Budi ada di gazebo depan mushollah. Cerita sama kalian disana. Saat saya mendekat, kulihat wanita itu ada diantara kalian. Duduk diatas gazebo.  Menonton kalian kerja laporan. Saat Menyadari ku datang jelas sekali dia pura-pura mengajak Babra berbicara. Sok serius. Ku dekati Budi dan kubisikkan maksudku. Budi permisi pada kalian minta diri mau ke BEM. Mengikutiku. Saya hanya tersenyum kemudian berbalik tanpa berbicara kepada kalian. Jihan menegurku, mengatai ku: sok cool. Saya berbalik, kutarik bibir bawahku lalu kuperlihatkan padanya. Kubilang: sariawan ka’. Nda bisa bicara banyak. Dia tertawa.
Mulai hari itu saya mempraktekkan tips-tips yang diberikan Fai. Saya belajar menghindar dari mendengarkan lagu-lagu mellow tentang cinta yang bisa membuatku mengingat dia.  Kusibukkan diri sesibuk-sibuknya agar tak ada peluang untuk memikirkan dia. Ku kejar ketinggalan laporan keteknikanku. Kurampungkan ketikan laporan GITH ku. Kumaksimalkan asistensi posterku ke kak Daud. Kusambut antusias kepanitiaan anniversary sylva.
Saya mulai mengamalkan puasa senin-kamis. Kuterima ajakan Rajab untuk ikut tarbiyah ke MESKAM. Disana saya juga belajar ngaji sama seorang ikhwa dari fakultas Ekonomi. Saya juga jadi rajin menghadiri kajian-kajian yang diadakan oleh LDF-LDF di kampus. Dari kajian-kajian yang telah ku ikuti, ada satu kalimat yang sangat berkesan dihatiku. Kucetak besar-besar dan kutempel di dinding kamar kostku.
 “Dengan mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita, dan siapakah yang menurunkan ketenangan pada hati seorang mukmin? Dia Allah Sang Penguasa Hati.
****
Suatu pagi, Suci masuk ke kelas dan menjadi kaget campur gembira. Tiba-tiba ia melihat ada gantungan kunci berupa boneka kayu kecil tergeletak diatas buku catatannya.  Gantungan kunci itu adalah miliknya yang dulu pernah hilang di Bengo. Heran dia, kenapa gantungan itu bisa muncul tiba-tiba disana. Saya yang duduk dua kursi dibelakangnya pura-pura tak peduli dengan sok sibuk membaca.
****
Kuhindari hal-hal yang berpotensi untuk membuatku bertemu dengannya. Kalau perkuliahan sudah selesai, saya cepat-cepat kembali kesekretariat BEM. Mengurung diri disana dengan kesibukan yang kubuat-buat.  Kalau kebetulan saya melihat dia berjalan diatas koridor yang akan kulewati, maka saya ambil jalan mutar atau singgah bila kebetulan di dekat situ ada gazebo atau tempat duduk. Kalau misalnya saya kuliah satu kelas dengannya, saya mencari tempat duduk yang paling jauh darinya. Nomor HP-nya juga sudah kuhapus dari daftar kontakku. Dua-duanya.
 Dan akhirnya, usaha kerasku tak sia-sia. Saya berhasil membuat hatiku untuk tidak terlalu heboh saat mendengar suaranya atau namanya disebut orang lain. Sedikit-sedikit saya mampu menepis bayangnya begitu  hinggap di benakku. Dan dirinya tak lagi lebih spesial dibandingkan wanita-wanita yang lain.
Kutemui Fai. Saya berterima kasih sekali kepadanya. Kuajak dia makan ke warung Dian. Saya yang traktir. Saya sadar, apa yang kuberikan itu tak sebanding dengan apa yang diberikannya kepadaku. Tapi dia bergurau. Katanya hal itu akan jadi sebanding kalau saya bisa mentraktirnya setiap hari sampai sarjana.
****
Malam ceremonial Anniversary Sylva. Saat acara formal telah di tutup dan tibalah acara persembahan tiap angkatan, saya menyendiri diruang mushollah yang telah disulap panita menjadi tempat penyimpanan konsumsi. Entah kenapa saya mulai alergi dengan keramaian. Membaca artikel-artikel dari internet lebih menarik bagiku malam itu. Yang kubaca adalah kisah penaklukkan konstantinopel oleh pasukan salahuddin al ayyubi saat seorang  wanita masuk keruangan. Nurfatihah amirah.  Ia kaget melihatku ada didalam. Tidak lama Hikma menyusul masuk. Mereka makan kue cadangan yang disimpan panitia. Setelah itu mereka mendekatiku. Katanya ada hal penting yang akan dibicarakan. Saya sedikit kaget melihat keseriusan mereka bicara. Ada urusan penting apa Ira dan Hikma denganku. Lalu kami mulai berbicara dengan dialeg khas bahasa ibu kita namun jika di interpretasikan kedalam bahasa yang dianggap baku oleh kaidah bahasa Indonesia, maka jadinya begini
  “kulihat kau banyak berubah belakangan ini” Ira memulai pembicaraan
  “Berubah..? berubah jadi Vampire maksudmu!?” saya bergurau. Pura-pura tak tahu apa yang dimaksud Ira.
  “ Jangan bertingkah konyol. Kau terlalu cerdas untuk tidak memahami maksud kami!” Hikma masuk. Coba menelanjangiku.
 “Oke..tapi kurasa aku berubah kearah yang positif. Jadi  jangan menatapku seolah-olah aku berubah kearah yang negaif.” Kuperbaiki posisi dudukku. Tadinya menghadap ke laptop, kini menghadap kedua wanita itu. Sepertinya ada masalah serius yang akan mereka sampaikan.
“ positif apanya. Apa menjadi seorang pecundang itu kau anggap sebagai perubahan yang positif?” Ira membuatku kaget.
“ Hey….aku tak tahu apa yang kalian bicarakan. Siapa yang pecundang?” kata-kata itu murni lahir dari rahim ketidaktahuannku.
Ruangan hening. Sayup-sayup kudengar kegaduhan dari dalam aula.
“kalau begitu, dengarlah. Kami punya cerita untukmu!”
 “ Sesungguhnya kami mengenal satu buah yang sangat ranum. Warnanya merekah. Dan aroma yang keluar dari buah ini sangat menggiurkan bagi siapa saja yang membaunya. Suatu ketika ada yang datang dan membombardir buah yang ranum ini dengan ribuan  kerikil kata-kata yang ia lesatkan dari ketapel mulut manisnya. Tapi buah ini terlalu kuat untuk ditaklukkan. Yang datang itu akhirnya putus asa lalu pergi. Namun tak di sangka, ternyata buah ini sebenarnya  sudah mulai rapuh. Kalau saja yang datang itu tak menyerah, maka cukup satu kali tembakan lagi buah ini akan jatuh dan menjadi milikknya. Tapi sayang..ia telah pergi. Berhari-hari kami mencarinya, berharap bisa memberikan kabar gembira ini kepadanya, namun sayang baru malam ini kami bisa bertemu dengannya..
Ira menggenggam tanganku. Menatap tajam..
“sebenarnya dia sekarang mulai cinta sama kamu. Kamu tahu setelah melihat perubahanmu yang tiba-tiba jadi pendiam, hampir tiap saat ia mengajak kami membahas tentangmu. Tentang perasaan bersalahnya kepadamu, tentang sms-sms gombalmu yang tak lagi mampir ke hpnya, tentang dirimu yang tak lagi usil mengganggunya seperti biasa. Jujur ia malu mengakui ini ke kami, tapi ia sangat merindukan itu semua. Kami tahu ia berharap kamu kembali lagi seperti dulu, dan kali ini ia tak akan keberatan kalau kau minta untuk jadi pacarnya..
 Dan teranglah ia. Hatiku perih mendengar penuturan Ira. Seperti ada berpuluh-puluh buah durian yang jatuh dan menimpa hatiku di tempat yang sama. Malam itu komitmenku terhadap kata-kata Fai di uji. Saya mau menangis, tapi malu pada Hikma dan Ira. Jika seandainya berita ini sampai padaku beberapa hari yang lalu sebelum kejadian di tegakan pinus itu, tentu keadaan ini tak akan menimpaku. Malah berita itu akan kusambut dengan menyembeli seekor kerbau. Karena bagiku, berita itu lebih membahagiakan dari pada berita akan kelahiran seorang anak laki-laki yang sampai pada ayahnya. Tapi itu dulu. Maka kusampaikan kepada Hikma dan Ira apa sebenarnya yang telah kualami. Meski akhirnya  mereka tak puas mendengar penjelasanku. Kami berhenti ketika panitia-panitia yang lain masuk ke ruangan.
Yang tak habis kupikir, bagaimana bisa wanita itu merasakan hal yang dulu kurasakan juga padanya. Padahal sikapnya selalu dingin, cuek, bahkan terkesan jijik saat saya coba mendekatinya. Padahal kata-kata puitisku dulu seumpama aroma comberan yang membuatnya selalu mual dan ingin muntah kala mendengarnya. Mengapa kemudian dia berbalik dan mengatakan welcome kepadaku.
****
Usaha yang kulakukan selama ini
Hanya seperti melempar lumpur ke tembok
Kau pikir tembok itu akan rubuh
Tidak. Tapi lumpur itu akan membekas disana
Ini adalah sepenggal syair Arai dalam novel Sang Pemimpi.
 Apa yang Arai katakan  kini telah menimpaku dan wanita itu. Selama ini saya luput akan satu hal. Kata-kata puitisku memang selalu hancur berkeping-keping saat membentur wajah cueknya. Namun tanpa dia dan saya sadari, kata-kata itu sebenarnya telah membekas dihatinya.
Saya teringat pada mimpiku dikelas ilmu kayu dulu. Di mimpi itu saya melihat ada jerawat yang ketinggiannya sekitar 2 mm dari permukaan kening wanita itu. Saat ku tanya padanya siapakah penyebab jerawat itu. Belum sempat dia menjawab, mimpiku malah bersambung. Saya sempat berpikir kalau penyebabnya adalah orang lain dan itu bukan saya. Namun kini saya sadar.
Penyebab jerawat 2 mm itu adalah saya.

                                                                    Selesai ditulis, jum’at 17 januari 2014.
Pukul 05.34. Bakda shubuh.
Lara, 25 km dari jantung kabupaten Luwu Utara, Masamba.

NB: 1. dalam penulisan, banyak mengadopsi gaya penulisan dari 3 novelis besar Indonesia. Habiburrahman el shirazi. Andrea hirata. Darwis tere-liye.
2.  Buku referensi: udah putusin aja! Karya Felix Y. Siauw, Ya Allah, Aku Jatuh Cinta, Karya Burhan Shadiq
3.  Dalam perbincangan antara Fai dan tokoh saya di tegakan pinus, sengaja di tulis dengan menggunakan bahasa baku. Hal ini untuk memudahkan isi buku udah putusin aja beradaptasi