2 mm
Saya tiba-tiba berdiri diatas tanah lapang
yang luas nan hijau. Saya tidak tahu persis tempat seperti apa itu. Sunyi. Tak
ada apa-apa. Hanya ada hamparan permadani hijau yang membentang sejauh mataku
memandang. Saya merasa hanya sendiri di tempat itu. Sepi dalam hening yang
dalam. Tiba-tiba saya mendengar ada yang
menyebut namaku. Saya menoleh. Mencari sumber suara. Sekitar empat langkah
dariku. Arah jam lima. Saya melihat seorang
wanita tinggi semampai berdiri menatapku. Dibelakangnya, nun disana merah saga
melumuri kaki langit. Saya mengenal perempuan itu. Lebih dari sekedar kenal
tepatnya. Pahatan wajahnya mungkin sudah memenuhi
setiap mili dari dinding hatiku. Dia melepas senyum kepadaku. (sebuah senyum yang sudah pernah kukatakan padamu sebelumnya parner,
kalau tak ada rindang pohon yang bisa mengalahkan teduhnya senyum itu).
Dass!! Ketuban neuropinephrine-ku
pecah. Melayang. Rasanya seperti ada angin sepoi-sepoi yang menghembus
dalam dadaku. Menari-nari dan menggetarkan dahan-dahan kanopi hatiku.
Wanita itu, akhirnya merumput lagi dalam
stadion mimpiku. Lama sekali ia tak bertandang. Terakhir kali -dan itu
yang pertama- sebulan lalu. Rabu pagi. Dua puluh november.
Antara jam satu dan jam empat. (
detailnya lihat dibuku pribadiku. Bagian dua. Halaman tujuh belas). Saya
melihat kami berdua ada di taman Spatodea campanulata. Duduk diatas bangku panjang warna toska. Berdampingan. Sementara bunga-bunga spatodea berguguran merintiki kami.
Dia menyanyi. Lagu barat. Jar of heart.
Tapi saya kesulitan mengiringinya dengan gitar. Dia ngambek, kemudian pergi. Sudah itu tak sudi lagi mampir
di mimpiku. Malam-malam berikutnya kucoba untuk terus memikirkannya. Agar
terbawa dalam mimpi. Kurayu TUHAN dengan doa. Memohon ke murahan-NYA agar membuatku bermimpi
tentangnya. Tapi nihil.
Memang saya bermimpi, namun yang kulihat adalah mas-mas penjual manisan yang
berlalu didepanku. Menjajakan manisannya. Padahal ceritanya saya lagi duduk di
pintu kamar kost memotong kuku ibu jari kaki.
Justru kemudian disaat momen yang tidak tepat
seperti ini dia malah datang. Saat
saya tidur....Ah, nanti saja kuceritakan kenapa sampai kubilang ini bukan moment yang tepat.
Sekali lagi saya menyapu
alam sekitar dengan sekali pandang. Tak ada pohon, tiang, pancang, atau semai sekalipun. Tapi disini lebih sejuk dari Unhas
kala siang hari. Yang saya lihat masih
padang rumput yang tak bertepi. Hijau dan segar. Tak ada siapa-siapa disini
selain kami berdua. Saya senyum empat centimeter. Tidak kepada wanita
didepanku. Tapi lebih kepada seekor kyuubi yang tersegel dalam diriku. Kyuubi
disini bukanlah si musang ekor sembilan seperti yang dimiliki Naruto. Saya
bukan jhincuriki. Tapi kyuubi disini adalah bentuk metafora yang kupilih untuk
mewakili sebuah istilah yang lebih kalian kenal dengan: Naluri seks. Ini
kesempatan. Tapi saya kemudian tersentak. Tidak!!. Kusegel
kembali kyuubiku dengan jutsu astagfirullah.
Ku katakan padanya : sabar parner. Semua akan ada waktunya. Kalau dia sudah
jadi halal bagi kita, maka kau akan kukeluarkan. Kalau perlu sampai ekor yang
ke-99. (lihatlah parner, bahkan dalam
mimpi saya tak berani berbuat nakal padanya
selangkah kaki semut sekalipun)
Wanita itu masih tersenyum padaku. Dengan
kerudung abu-abunya, kaos lengan panjang dengan
warna sama, longgar seperti baju cewek-cewek FKG, dengan rok warna cokelat
gelap mencumbu rerumputan, dia nampak begitu anggun. (untuk kedua mataku, dia memang selalu terlihat anggun). Saya ingin
memandangnya terus seperti ini. Kalau saja teknologi sudah lebih canggih
sekarang, mampu menciptakan IDM yang bisa men-download mimpi. Maka saya akan men-download momen ini agar bisa kuputar ulang di labtopku. Kapan pun
saya mau ketika terjaga.
Tapi persetan dengan itu. Ada hal yang lebih
urgen untuk saya bahas sekarang. Saat saya menatap lekat-lekat
wajah wanita itu, tiba-tiba saya melihat ada titik
merah bulat diatas alis sebelah kirinya. Sebiji jerawat. Sejak kapan dia
memiliki pimple unyu’-unyu’ itu.
Terakhir saya lihat didunia nyata wajahnya mulus-mulus saja.
Apa itu semacam simbolis yang membawa pesan tersirat untukku. Nalar
interpretasiku mulai meraba-raba. Jerawat bisa jadi representasi dari
ketertarikannya pada lawan jenis. Wanita itu menyukai seseorang?. Sebuah
kemungkinan terburuk menghinggapiku mengingat di dunia nyata wanita itu tak
pernah menaruh perhatian sedikitpun
kepadaku, kalimat-kalimat puitisku selalu saja hancur berkeping-keping begitu
membentur wajah dinginnya kepadaku.
Seseorang telah menaklukkan hatinya, dan itu
bukan saya. Aiii. Sakit sekali
membayangkan hal itu.
Galau,
cemburu, marah, penasaran, takut,
curiga, panas, dan dingin bertransformasi menjadi cryptotermes dan mendegradasi selulosa damai
yang kurasakan beberapa menit terakhir. Kebahagiaanku dengan cepat menguap
seperti tetes embun di musim kemarau. Tapi ini masih hipotesis. Saya mau
bertanya langsung padanya. Kuharap dia punya penjelasan yang baik tentang
jerawat sialan itu.
Tempat ini sudah tak sesejuk tadi. (Pengaruh
suasana hati). Sekarang lebih seperti lab GITH. Sesak dan panas. Saya mendekati
wanita itu. Satu langkah. Kami bersitatap. Degup jantungku memadu cepat.
“jerawat siapa itu?” Pertanyaan saya lepaskan.
Hening.
Tik..tok..tik..tok.
Tinggal menunggu jawaban. Kutatap dalam
matanya. (sebuah fenomena baru kusadari.
Dan ini bertentangan dengan ketentuan alam.
Bahwa saat menatapnya dari jarak sedekat ini, seperti bayangnya tidak jatuh di
retina mataku. Tapi jauh kedalam lubuk hatiku). wanita itu membuang pandangannya. Jauh.
Hidungnya mengembang. Dadanya terangkat. Bibirnya bergerak lembut. Mengucap
lirih sesuatu. kata maaf. Kemudian dia
kembali menantang mataku. Diam. Hening. Namun tiba-tiba sebuah bunga jatuh
menimpa kepala wanita itu. Terpantul dan terus jatuh ketanah. Bunga warna
orange. Spatodea campanulata. Dari mana datangnya?. Kulihat kearah langit.
Kawanan bunga spatodea beterbangan liar diatas sana. Bermanuver. Menukik tajam
kearah kami. Meliuk-liuk dengan gerakan akrobatis seperti baronsai. Masuk
disela-sela kami kemudian melesat kembali ke udara. Saya terpukau. Tepuk tangan. Lama
sekali. (entah kenapa ceritanya jadi seperti ini. Saya juga heran parner. Tapi
bukan mimpi namanya kalau nda aneh-aneh). Wanita itu juga terpukau.
Melompat-lompat kecil. Melambai-lambaikan tangan. Kawanan spatodea itu kemudian
berkumpul tak jauh diatas kepala kami. Dengan sangat mengejutkan, bekerja sama
membentuk rangkaian huruf menjadi sebuah kalimat yang tertulis diudara. Saya baca : BERSAMBUNG. Maksudnya?
Dan semuanya pun menjadi gelap. Tak ada lagi
hamparan permadani hijau seperti tadi. Saya jengkel. Ternyata itu maksudnya.
Mana ada mimpi yang bersambung.
AnasSongkolo.!!
Songkolo.
Songkolo kongkong!!
Saya merasa seperti ada yang mengguncang bahuku. Memanggil-manggil namaku. Saya
terbangun. Silau. Saya memicingkan mata sebelah. Seseorang menggenggam bahuku. Saya lihat mukanya. Dwiki ternyata. Tadi dia juga yang
memanggil namaku. Saya mengenal suaranya. Ia tertawa. Sekarang saya sadar blunder lagi. Mataku masih liyer-liyer. Saya lihat didepanku, Sisi. Ia menutup mulutnya. Ku tahu ia sudah tak
tahan mau memuntahkan tawanya. Semua pasang mata dikelas tertuju padaku. Saya
hanya bisa cengar-cengir. memanggutkan kepala
pada dosen ilmu kayu yang berdiri didepan kelas. Minta maaf.
“Tadi
kau mimpi makan songkolo bagadang dimana?”
Dosen itu bertanya.
Disambut
tawa teman-teman satu kelas. Riuh. Yang paling keras ketawanya Sisi. Satu teplakan menyambar kepalaku.
****
Saat menulis kalimat ini, kata ini, huruf ini,
dan tanda koma ini, mungkin kalian
sudah tidur lelap dalam aula gedung riset. Rebah tak
beraturan. Seperti barang-barang para penumpang yang baru diturunkan di
terminal. Jam 3 pagi. Saya sendiri duduk diluar teras. Sudah menjadi kebiasaanku terbangun diwaktu
seperti ini. Ketenangan yang ditawarkan sepertiga malam terakhir selalu memikat
jiwaku. Apalagi di pundak gunung seperti ini. Di atasku siluet tajuk
koloni pinus merkusi membingkai langit yang dibuat sesak oleh kawanan bintang.
Mengerjap-ngerjap. Seperti milyaran pasang mata penguni langit yang mengintip
bumi. Mengintip jiwa-jiwa yang terjaga mengingat Tuhannya. Gedung riset
terlelap. Hutan pendidikan hening cipta. Hanya terdengar semilir angin,
gemerisik dedaunan, mars jangkrik dan decit mata pena yang menulis ini dalam
buku pribadiku. Selebihnya itu hening. Alam tenggelam dalam malam yang dalam.
(sebelum menulis ini, saya
berhenti untuk mengisap rokok dulu. Tiga kali isapan. Belum puas. Kutambah
sekali lagi. sudah itu kumatikan. Simpan diatas asbak lagi. lanjut menulis
lagi.)
Saat menatap langit sekali lagi.
Melihat bintang-gemintangnya yang kini sudah nampak seperti titik-titik
putih pada tampilan pertama slide di fakultas. Tiba-tiba saja ada perasaan
rindu yang kurasa menari-nari dalam dadaku. Sesak. Apa kabar dia? Terakhir saya
bertemu dengannya kemarin di fakultas. Masih dengan sikap dinginnya.
Hatinya masih sekokoh benteng fort Rotterdam untuk kutaklukkan. Saya kira dia juga
ikut praktek lapangan ke Bengo. Ternyata tidak. Dia rupanya belum
ambil mata kuliah keteknikan di
semester ini.
Apakah dia tahu kalau semakin lama hatiku kian menjadi rapuh dari
setangkai bunga mawar karenanya?
Ah, andaikan dia ada disini sekarang, duduk bersamaku, akan saya katakan padanya
kalau matanya itu jauh lebih indah dari langit malam ini.
****
Bengo-bengo. Aula gedung riset. Pagi-pagi.
Ada sebuah teori yang mengatakan siapa saja yang mengisi
kepolosanmu, maka dia akan menjadi sangat berkesan sepanjang hidupmu. Entahlah
benar atau tidak. Tapi teori ini bisa memberikan penjelasan yang baik tentang
beberapa kasus. Pertama: Mengapa seorang ibu itu bisa sangat berkesan bagi anaknya. Karena
ketika si anak lahir, ibunyalah yang pertama kali menyambutnya. Ibunyalah yang
mengisi kepolosan si anak yang belum tahu apa-apa tentang lingkungan barunya.
Kedua…mengapa pacar pertama sulit dilupakan. Karena ia sangat berkesan. Kau
bisa mengenal pacaran dari dia. Dia yang mengajarimu bagaimana adab-adab dalam
berpacaran. Mengisi kepolosannmu. Yang terakhir. Ini yang paling penting. Saya
sudah banyak bergaul dengan teman-teman dari kelas lain. Tapi jujur, ada
perasaan beda yang kurasakan saat bersama dengan teman-teman dari kelas D.
mengapa bisa? mungkin karena mereka berkesan. Disaat saya masih awam tentang
dunia perkuliahan di awal semester 1, di saat saya baru menjalani pengalaman
pertama terpisah dari orang tua dikampung dan hidup di Makassar, di lingkungan
baru, maka teman-teman kelas D inilah yang menemaniku sehari-hari. Sama-sama
mengisi kekosongan dan kepolosan tentang dunia baru kami.
Dan
kurasa ini tidak hanya mengikat kelas D, tapi merata di semua kelas. Seperti
yang terlihat dihari ini.
“Masih ada airmu?” Budi datang membawa semangkuk mie instannya
yang belum disiram.
“
Ada ji beb.”
“Dari
mana ko memang kah..?”
“Dari
ka mandi..
Lingkaran memberi ruang untuk Budi.
Budi duduk di dekat ku. Wangi yang ditinggalkan sabun di badannya menyeruak
masuk hidungku. Dia menatapku. Menaik-naikkan alisnya nakal. Mungkin artinya :
sabun shinzui ces!!. Kubalas dengan senyum 2 cm. Artinya : Bombe’ ko, mandi nda
panggil-panggil. Solkar!!. Saya berpaling. Lagi malas meladeni budi dengan
komunikasi tingkat tinggi kami. Pop mie-ku sudah habis. Sebagian juga sudah
selesai. Sekarang pukul
07.12. Masih ada waktu sekitar 10 menit untuk rehat sebelum siap-siap ke aula
Eboni. Ada pengarahan
yang akan diberikan oleh para asisten sebelum memulai praktek lapangan di sana.
Saya bergegas. Membersihkan remeh-remeh
sisa makanku. Membuang di tempat sampah. Arah jam 9 dariku, kulihat Vina....
sinar
matahari menembus jendela kaca yang dibuka 15 derajat. Membingkai gerombolan
debu yang beterbangan di udara. Menabrak poni-poni yang menggelayut liar di
depan kening Vina. Vina fokus membuka kemasan pop mie rasa sotonya. Mau nambah
lagi dia. Entah itu sudah pop mie yang keberapa. Vina
melirik kearahku. Tersadar dia kalau saya memperhatikannya dari tadi. Dia
tertawa. Menutup mulut. Itu khasnya.
“ini pop mie yang terakhir bro..” tersipu dia.
Saya berdiri. Pamit untuk keluar dari
lingkaran. Waktu 10 menit akan kumanfaatkan untuk menelpon turun kampung. Kemarin saya belum
sempat memberitahukan ke orang tua dikampung tentang kepergianku untuk praktek
lapangan ini. Saya melangkahkan kaki. Masih sempat kulihat Budi berusaha
membuka bumbu minyak mie–nya. Pake gigi. Begitu terbuka bumbu minyaknya muncret. Muncret-nya kearah kahfi. Kahfi menghindar. Refleks. Selamat.
Untung dia punya inoujutzu. Saya senyum sendiri sambil berlalu. menyapu aula dengan sekali pandang. Ada majelis
makan dimana-mana. Sebagian besar kumpul dengan teman kelasnya saat semester 1.
Teman yang berkesan. Canda. Tawa. Ceria, meski hanya makan mie instan. Itulah
indahnya kebersamaan. Bukankah kalian sudah pernah mendengar seorang penyair
berkata : garam akan terpanggang menjadi madu dalam wajan
kebersamaan. Atau lubang jarum ketika bersama teman-teman tercinta akan terasa
seperti padang lapang nan luas. Atau ingatkah kalian pada puisi yang ditulis
oleh rekan kita begitu ia kembali dari temu pisah tempo hari. Puisi yang banyak
menceritakan tentang ajaibnya kebersamaan. Saya masih ingat betul. Utamanya
pada bait ini :
Teman....
Dengan kebersamaan
Kita mampu mengubah lumpur serasa
lulur
Dengan kebersamaan
Kita mampu memindahkan surga ke hutan
pendidikan
Dan dengan
kebersamaan
Pengkaderan
menjadi trauma termanis yang pernah kita rasakan
****
Tundu’ ko !!
Tundu’ko------
(sebenarnya,
digaris-garis mendatar itu saya tulis kata ------, tapi karena sebelum di
upload tulisan ini sudah melewati proses “penjernihan” oleh lembaga sensor
cerpen dulu, makanya kata------ itu diganti menjadi garis-garis mendatar. Agar
lebih sopan.)
Kata-kata yang menyambar dari mulut para
senior itu merobek hening yang menyelimuti malam di hutan pendidikan Unhas.
Sebenarnya kita sudah tunduk dari tadi. Sejak turun dari mobil malah. Hanya
mungkin karena pekatnya malam yang membuat mereka tak melihat kepala kita yang
menunduk, ataukah memang mereka sengaja, pura-pura tak melihat sehingga setiap
mereka yang datang selalu saja dua kata itu (atau sejenisnya) yang dibentakkan
ke telinga kita. Dan kemungkinan kedua itulah
yang membuat sisi gharizatul baqa’( naluri untuk mempertahankan
diri) dalam diriku muak mendengarnya. Karena
parner, ini bukan persoalan lihat tidak lihatnya, tapi ini persoalan prinsip
yang mereka bahasakan dengan : yang penting marah dan membentak!!.
****
Kelompokku baru tiba dan langsung masuk dalam
barisan. Bergabung dengan kelompok lain yang lebih dulu sampai. Kami tetap
mengekor dibelakang ketua masing-masing. saya
off kan hetlem di kepala. Cahayanya sudah tak
terlalu dibutuhkan karena disini sudah ada lampu penerang. Walau hanya satu.
Topi rimba saya biarkan menggantung di leher. Baju bakau dan
trening hitam yang melekat di badanku berembun karena dingin. Kakiku sampai
betis masuk ke tanah berlumpur. Carier merek
Rei dengan badcover orange mendekapku
dari belakang. Entah carier milik siapa. Tadi semua carier ditumpuk disatu
tempat, kemudian perorang disuruh mengambil sembarang. Tak boleh ada yang
mengambil cariernya sendiri.
Satu tepukan keras mendarat dipundak kananku,
di susul dengan kalimat:
“ Jangan ko melamun!!”
Seorang senior dengan setengah berlari
menyerempet barisan kelompokku dari depan sampai belakang. Saya oleng. Tak
mampu mempertahankan keseimbangan. Masih dengan kalimat yang sama:
“ Jangan ko melamun!!”
Melamun adalah hal yang pantang untuk
dilakukan pada saat itu. Namun di bawah tekanan mental begitu, apa ada yang
masih sempat melamun?
Rahang gemetar.
Dingin semakin menusuk-nusuk tulang.
****
“ satu..!!”
Korlap melepas hitungan. Suaranya seperti
pistol yang ditembakkan ke udara. Perjuangan di mulai. Push-up di atas tanah
berlumpur dengan carier 80 liter di punggung adalah mimpi buruk yang kenyataan
malam itu.
“ Dua..!!”
Kepalan tanganku membenam dalam. Menekan
dengan sisa tenaga yang ada. Mendongkrak badan plus carier 80 liter sambil menahan nafas dan menurunkan sambil mendengus tanda
tak kuat.
“ Tiga..!!”
Saya melihat ke sekeliling
dari sudut pandang posisi set. Berpasang-pasang kaki para senior mengepung.
Saya tak berani mendongak dan menatap wajah mereka. Sebab kalau itu kulakukan –
Duss!! Seorang senior menendang genangan air kearah wajah teman disampingku,
disusul dengan bentakan : “Apa muliat!?”- maka itulah konsekuensinya. Teman kita itu meringis. Matanya perih kemasukan pasir.
Pandangan kubiarkan
melata diatas tanah berlumpur itu sampai ke tepi. Genangan-genangan air yang
membiaskan cahaya lampu, tenda-tenda yang samar di kejauhan, bayang-bayang
pepohonan tinggi, dan bintang-gemintang yang bertengger rendah. Sebuah
pemandangan yang cukup untuk menyita perhatian kalau saja kita sedang tidak
dalam suasana pengkaderan
“ Stengah..!!”
Dan inilah bagian paling mematikan. Saat
persendian sikumu sempurna membentuk sudut 90 derajat. Kau harus diam disudut
itu, menahan berat badan dalam waktu yang sengaja dilama-lamakan.
“kalasi mo ko!!”
korlap berseru menang. Kemarin-kemarin memang saat kita masih menjalani pra
kegiatan ini, jika hitungan push-up sampai pada stengah, banyak diantara kita
yang kalasi yaitu tidak menahan badan
tapi membiarkannya turun menyentuh tanah. Tengkurap. Kalau sekarang?!! Siapa
yang berani tengkurap di atas lumpur yang siap membenamkan badan
saya menahan
badan agar tak sampai menyentuh lumpur di bawahnya. Seorang senior datang dan
menindis carierku. Saya mengerang dibalas dengan bentakan : “turun lagi!!” oleh
si senior. Tak sanggup ku tahan lalu
dagu, dada, perut dan lututku sempurna mendarat diatas lumpur. Kurasakan geli
dan dingin saat lumpur itu menjilat kulitku.
“ Sembilan..!!”
****
Pucuk tenda itu hanya setinggi dada kami.
Bentuknya seperti segitiga sama kaki. Atapnya terpal dan lantainya tanah
berlumpur. Kalau kami masuk penat leher sampai punggung karena membungkuk. Usai
menjalani prosesi penyambutan, kita
digiring ke tenda itu. Perempuan di tenda terpisah. Semua carier di masukkan ke
tenda. Diatur berbaris dua-dua sepanjang bagian tengah. Kita menggelar matras masing-masing untuk di
jadikan alas tidur. Kubuka sepatu lapanganku. Lumpur sudah mengendap disana.
Kurasa kuku ibu jari kakiku akan bernanah lagi setelah hari ini. Sekujur badan
lembab. Bau keringat berkolaborasi dengan bau lumpur menyeruak masuk hidung.
Beberapa senior datang, berpatroli disekitar tenda, menengok ke dalam sambil
meneriakkan semacam ultimatum agar kami lekas tidur. Demi mendengarnya
teman-teman yang masih duduk segera berbaring ke matras. Menggeliat untuk
mencari posisi yang nyaman, meski mereka tahu kalau usahanya tak akan berhasil.
Malam semakin menepi. Sebentar lagi matahari datang. Kita bergidik. Mengingat, betapa kerasnya hidup
yang akan kita jalani di bawah sinarnya siang nanti.
****
“woiii….”!!
Suara itu menyergapku dari belakang.
Membuyarkan lamunan panjangku tentang malam pertama temu pisah kita dulu di
lapangan yang kini menghampar di depanku. Sejatinya suara itu ingin membuatku
kaget. Sayang, saya tidak kaget sama sekali. Namun kucoba untuk tetap
menghargai usahanya dengan sedikit berpura-pura kaget sambil menoleh kearah
sumber suara itu datang. Ternyata Kahfi.
Dia kemudian berdiri disampingku, merangkul
leherku dengan tangan kanannya, mengikutiku menatap formasi rumput yang
melambai-lambai diterpa angin di kejauhan sana.
“siapa lagi mu pikir sotong..??” katanya
melempar topik pembahasan. Pelan dia melirik kearahku. Tatapannya coba
men-sekak.
“ kepo’ sekali ki cowok. Biar lagi urusan pribadiku
ta burengi juga.!!” Kulepaskan diri dari rangkulan tangannya. Berjalan menjauh.
Matahari masih bersembunyi dibalik tajuk-tajuk
pepohonan. Sinarnya yang tembus melalui celah-celah rimbun
dedaunan membentuk garis-garis putih seperti laser. Baru saja kita sampai di
bibir sebuah lapangan. Posisinya yang terletak ditengah-tengah hutan membuat
keberadaannya menjadi unik dan nampak seperti stadion sepak bola. Kini lapangan
itu menghamparkan permadani hijau nan meneduhkan mata. Berbalik 180 derajat
dari kondisinya saat pertama kali kita menginjakkan kaki dilapangan itu, jum’at
23 februari lalu.
Sebelumnya kita memulai perjalanan dari aula
Eboni. Setelah mendapat arahan dari para asisten tentang apa-apa yang akan kita
lakukan nantinya, kita mulai digiring menuju tegakan pinus. Arak-arakan seperti
orang kawinan. Tumpah ruah menyusuri-menurun dan menanjaki jalan yang diapit
pohon-pohon tinggi. Kira-kira 20 menit perjalanan, akhirnya kita sampai di
lapangan itu. Lapangan yang bersejarah bagi kita. Lapangan yang menjadi saksi
bisu saat kemerdekaan kita dirampas dalam bingkai pengkaderan. Lapangan yang
kala menatapnya, semua episode-episode memilukan itu seperti di putar kembali
disana.
Beberapa dari kita tumpah menyeruak masuk ke
lapangan itu. Berlari-lari ringan seperti anak kecil menyambut hujan turun.
Entah apa yang ada dalam pikiran kalian.
Sampai disana sebagian ada yang mencari-cari background yang pas di hati untuk fose-nya didepan kamera. Saya
tersenyum menyaksikan itu. Kahfi mendekatiku. Menggoda ngawur. Tak ingin meladeninya saya menjauh. Ikut masuk lapangan.
Kahfi mengejar. Coba dampingi langkahku. Tangan kanannya merangkul lagi
pundakku.
“ Saranku, mending kau tembak mi hari ini..!”
Ia membisikkan itu lirih ke telingaku. Saya berhenti. Semakin ngawur saja anak mandar itu. Kukerutkan kening kearahnya. bertanya: “siapa lagi
mu maksud sotong..??”
“ Elleeeeh…” Dia menyeringai. berlagak menang.
Mengajakku meneruskan langkah.
“ Dari tadi ko kuperhatikan lirik-lirik terus
itu sana e..” Ia menunjuk dengan isyarat mata. Arah jam 3 dari kami. Saya menurut saja. Kulihat. Disana Ani
sedang memotret 3 diva jebolan kelas D : Hikma, Tri dan Suci diatas bekas panggung sylvaria kita
dulu. Suci mengeluarkan gaya andalannya yaitu senyum memperlihatkan gigi-giginya sambil kedua tangan diletakkan di kepala
sebagai telinga kelinci.
“ Yang pegang kamera..!!” Ia memperjelas
wanita yang dimaksud
“ Ani..!?”
“ Wee Bro..” Kahfi menahan langkahku. “ sekarang
itu moment yang tepat. Besok-besok kalau ada yang tanya dimanako tembak
pacarmu. Bisa ko jawab di hutan pendidikan. Kan keren..iya toh!?”
Kahfi terus mengoceh.
Saya tak menghiraukan.
Beberapa orang asisten lewat mendahului kami.
Menegur yang masih asyik berfoto-foto. Menyuruh agar lekas meneruskan
perjalanan ke tegakan pinus. Seorang wanita teman angkatan kita mengekor
dibelakang asisten tadi. Rambutnya dikuncir rapi. Selvina taemin. Kupanggil.
Cuek saja dia. Aiiii. Sombong. Kutinggalkan Kahfi. Membiarkan dia dengan semua
pikirannya yang macem-macem tentangku. Saya tak peduli. Toh, saya memang tidak
macem-macem. Kudekati vina. Kahfi mengikut.
“ annyi waseo..”
Tak ada respon.
“ Tumben sendiri. Mana predator yang lain?”..
Vina berbalik. Keningnya berkerut menatapku.
“ yaa..predator. perempuan dari tator “.
Kujelaskan maksudku. Ia tertawa. Melayangkan lemah cubitannya. Kahfi juga
tertawa.
Didepan sudah tepi lapangan. Kita akan masuk
ke hutan lagi. Saya berbalik. Dari arah kita datang kulihat masih ada teman-teman
yang baru akan turun kelapangan. Rumput-rumput yang masih basah karena hujan
tadi pagi melambai-lambai ditiup angin. Menyambut dalam bisu.
“ hee..vina!”
“apa..?”
“ kau dapat salam dari lapangan BA..!”
kukatakan itu sambil mengajak vina ikut berbalik dan menatap lapangan yang baru
saja kami lewati.
“ O..ya. apa dia bilang?”
“ Dia bilang usahakan periode ini kau ikut BA juga!!”
Vina hanya tersenyum. Kemudian berbalik-naik-bergegas masuk hutan.
Saya mengikut. Pertanyaanku memburu.
“ Balas ki tawwa. Apa mau mu bilang?”
Vina go ahead.
“ nda perlu. Sudah mi kubalaskan pakai namamu
vina” Kahfi menyahut. Setengah berteriak.
Ternyata dia mengikuti pembicaraanku dan vina dari awal.
Vina menengok ke Kahfi. Bertanya.
“ Apa mubilang.?”
“ kubilang..nantilah diliat. Kalau benar-benar sudah
dijadikan 1 SKS..”
HAHAHA. BUREENG.
****
Dalam perjalanan
menuju tegakan pinus selanjutnya, beberapa kali saya terjatuh. Benar kata
Kevin. Mataku memang melihat jalan tapi pikiranku menerawang. Jauh…
Ini masih selalu tentang
wanita itu parner. Masih tentang rindu yang menganga dalam dada karena tak
terbalas.
****
Jam 9 lewat. Nda’ tau lewat berapa. kita sampai di tegakan pinus. Matahari mulai
tinggi. Begitu sampai semua kepenatan ditebus oleh indahnya pemandangan disana.
Pinus-pinus menjulang tinggi mencakar langit Limampoccoe. Menebar wibawa dengan
baju zirahnya yang diuntai dari jarum-jarum klorofil. Batang-batangnya yang
kokoh Nampak seperti ular yang habis menelan linggis raksasa, kemudian jatuh
teratur dan menghunjam ke tanah pegunungan ini.
Di seberang lembah,
gunung-gunung yang puncaknya tidak lebih tinggi dari tempat kita berdiri nampak
jelas ditutupi oleh pohon-pohon yang bertengger rapat. Tajuknya
bergumpal-gumpal. Meneduhkan kala dipandang dan menggerakkan lidah untuk lirih
bersenandung:
Rimba raya
rimba raya
Indah permai
nan mulia
Maha taman
tempat kita bekerja…………
Adalah bukan yang
pertama kalinya saya menyambangi tegakan pinus itu. Sebagian dari kalian juga.
Maksud saya yang ikut temu pisah. Masih ingat kan? Saat itu kita memanggang
telapak kaki kita di atas nyala parafin,
namun kaki-kaki yang telah memucat dan mengkerut karena dingin sudah menghisap
darah darinya itu tidak merasakan apa-apa kecuali kehangatan. Di tegakan pinus
itu juga dulu kita disambut oleh
senior-senior dengan hangat seperti bapak-bapak yang menyambut anaknya yang
baru pulang disunat. Padahal sekitar 13 jam sebelumnya, senior-senior itu
jugalah yang meneriaki, mengejar dan memukul-mukul mobil tentara yang membawa
kita datang, seolah mereka adalah buaya-buaya yang kelaparan dan kita adalah
daging ayam yang dibawa untuk mereka.
“ istirahat mi dulu dek, silahkan dimakan snek-nya. Nanti kita akan turun lagi ke
jalan yang tadi. Jatah setiap kelompok 100 meter dan itu diukur dari sini !!
****
Cinta itu tidak
menyakitkan. Yang menyakitkan itu ketika kita mencintai wanita yang tidak
mencintai kita.
Tegakan pinus. 15 menit kemudian.
Sejak hatiku tertawan
olehnya, saya mulai menggeluti hobi baru : MELAMUN. Segala tentang dirinya
seperti magnet yang menarik alam khayalku. Lebih gila lagi saya menjadi cinta
dan sayang pada semua hal yang ada kaitan dengannya. Hal itu makin kusadari pagi tadi. Saat kudengar,
Suci memiliki gantungan boneka kayu kecil cantik di tas ranselnya. Katanya
adalah barang kesayangan wanita itu yang direbut paksa oleh Suci. Maka
diam-diam saya mengambilnya saat Suci lagi asyik makan. Tak ada yang tahu. Kecuali Allah, malaikat
pencatat dosa dan iblis (laknatullah
alaih). Bagiku, memiliki gantungan itu bisa sedikit menghibur hatiku yang
tak bisa memiliki pemilik gantungan itu.
Saya pernah mendengar tentang Qais. Apa yang
menimpanya kira-kira tak jauh beda dari apa yang menimpaku sekarang. Hanya dia
lebih parah. Penyakit cinta yang dideritanya sudah masuk stadium 4. Semua hal
yang berkaitan dengan Laila-kekasihnya- akan disayanginya. Seperti dikisahkan
ketika ia melihat seekor anjing dan ia yakin anjing itu berasal dari kota
kekasihnya, Laila. Maka ia langsung mengasihi anjing itu. Di lain waktu
saat ia menatap langit malam, ia mengira-ngira
bintang mana yang tepat berada diatas rumah kekasihnya, Laila. Ketika dapat, ia
kemudian memandangi bintang itu terus.
Qais juga menggubah syair-syair yang maksudnya sama.
Seperti:
Ketika aku
melewati kota laila
Aku mencium
setiap dinding dan lorong-lorongnya
Sebenarnya
bukanlah kecintaan pada kota itu yang menggetarkan hatiku
Namun
kecintaanku pada seorang wanita yang tinggal didalamnya
Dan yang ini:
Pernah
seseorang bertanya kepadaku: apakah engkau mencintai Laila?
Aku berkata:
jangankan dirinya, debu-debu sekalipun yang menempel disandalnya
Lebih aku
cintai dari dunia dengan segala isinya.
Gila. Dan memang
itulah panggilan orang-orang dimasanya pada Qais: Majnun. Seorang ulama berkata: orang yang sedang di mabuk cinta
itu, maka gilanya lebih gila dari orang gila. Namun parner, saya tak ingin nasibku sama tragisnya
dengan nasib Qais. Dan saya lebih-lebih tak ingin nasib wanita yang ku sayangi
itu sama dengan nasib Laila. Anda tentu tahu kan bagaimana akhir cerita cinta
antara Qais dan Laila. Keduanya mati karena terbakar oleh panasnya api cinta
yang tak dipertemukan.
Paling cocok melamun dengan mengisolasi diri.
Maka hari itu saya menghindar dari kalian, dari Suci yang tak henti-henti
bicara dan kalau bicara nada dasar suaranya G. langsung reff. Dari Dara yang
kalian ajari mengucapkan huruf R dengan benar, dari Irwan yang jail menghitung
tahi lalat di wajahnya kiki tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, dari Ayu
mendila yang curhat tentang “kakak” keren-nya, dari Budi yang narsis saat
kamera dibidikkan kearahnya, dari Ali yang terus mencolek-colek daerah paling pribadi yang kumiliki, dari
kahfi yang masih terus menghubung-hubungkan saya dan Ani dengan istilah HHBK,
Hatiku-Hatimu Bertemu di Kehutanan, dari Babra, Jihan, Vivin, Rilya, Dian FM, dan
Beatrix yang membuat heboh kabar miring dari kahfi. Dari Fai yang dengan bangga
bercerita bahwa saking fansnya sama Cristiano Ronaldo sampai-sampai kalau ke
warung ayam lalapan dia selalu pesan sayap kiri.
Kutinggalkan kalian. Menjauh..
Saat saya menulis ini,
kata ini, huruf ini, dan tanda koma ini ,
bersamaan dengannya seorang wanita baru masuk ke sekretariat BEM. Di luar gerimis-gerimis romantis. Wanita
itu tersenyum ke seorang laki-laki yang duduk di pojok ruangan. Yang disenyumi
segera membalas dengan senyum kemudian kembali menatap layar laptob di
pangkuannya. Jemari laki-laki itu terus menari diatas keyboard laptobnya.
Wanita itu adalah Mira. Teman angkatan kita. Dan laki-laki di pojok ruangan itu
adalah saya yang lagi sibuk menulis ini. (punggungku sakit. Sudah terlalu lama
saya membungkuk. Mata capek. Kuletakkan labtop ke lantai. Saya berdiri,
merenggangkan otot-otot. Kutanya Mira apa tim Bakau 48 sudah bertanding. Dia
bilang belum.)
“ minta air mu sedikit..!”
Saya menoleh. Lamunanku
buyar. Ada orang yang minta air. Ternyata Fai. Kuberikan botolan aqua ditanganku yang masih berisi air
setengah. Dia menerima dan mengatakan “Danke”. Kubalas dengan senyum.
Kutarik nafas.
Menyegarkan memang menghirup aroma khas
yang di hembuskan hutan pinus. Benar kata penelitian yang mengatakan kalau
pinus dapat meredakan pilek, sinusitis, dan asma. Dan hari itu sudah kubuktikan
sendiri kalau penyakit asma karena rindu yang kuderita sedikit teredakan.
“kucari-cari ternyata disini ko pale….menyendiri.” Fai
memukul-mukul pundakku. Dia belum meminum air yang kuberikan.
“ko tau kalau serigala itu hanya menyerang domba yang
sendiri…” kini ia berlagak bak mahaguru yang menyampaikan petuah ke muridnya.
Dia membuka tutup botol Aqua yang kuberikan.
“ tapi serigala tidak akan menyerang domba yang sedang
dihantam rindu” Kalimatku mengisyaratkan kalau saya ingin curhat.
“kenapa?”
“karena itu melanggar undang-undang dunia
perserigalaan”
“Haha..kau tambai-tambai
lagi. Jangan sampai hadist nabi itu. Berdosa ko. Istigfar ko cepat!!”
Buah-buah pinus kering berserakan diatas
serasah daun jarummnya. Meski tak kulihat, tapi ku tahu prajurit mikroorganisme sedang berjuang disana untuk
menaklukkan asam yang ditimbulkan oleh kandungan lignin dan ekstraktif pada serasah itu. Seperti saya yang masih
berusaha untuk menaklukkan hati wanita pujaan. Kuambil satu buah pinus yang
paling dekat dari kakiku. Meraba lembut sisik-sisiknya. Pikiranku tak disana.
Fai mendongak. Menuangkan air dalam botol kemulutnya.
Meneguk sampai tiga kali. Jakunnya naik turun. Kutanya fai.
“ Fai, pernahko jatuh cinta sama seseorang…!!”
Perasaan cinta dan rinduku pada wanita itu yang
membuncah-buncah didalam dada, kini meletup-letup diujung lidahku. Tak mampu
kutahan. Seperti saat kebelet pipis. Butuh
seseorang untuk jadi tempat curahan.
Fai menyudahi minumnya. Sambil minum tadi kuyakin dia
mendengar betul apa yang kukatakan. Dia menatapku. Lama sekali. Kemudian
tersenyum lalu minum lagi. Aiii…
“tunggu dulu…” katanya kemudian setelah menyudahi minumnya.
“ Apa defenisinya itu cinta kah???”
****
“Tak diragukan lagi kalau media, entah itu televisi
radio, majalah, surat kabar dan kawan-kawannya memiliki andil terbesar dalam
membuat istilah cinta menjadi familiar di kalangan kita!”Kalimat Fai mengalir sangat
diplomatis. Ia berlagak bak pemateri di seminar-seminar nasional.
“Dan ekspansi usia yang dilakukan oleh media dalam
mensosialisasikan cinta itu tidak hanya berhenti di kalangan kita. Sekarang
anak-anak usia remaja hingga usia belia pun turut mereka ajak “bertamasya ke
pulau” cinta
Kali ini dengan sentuhan puitis
“Kau tahu kalau baru-baru ini kudengar, ada anak SD
kelas 4 yang mengirimkan surat cinta ke teman kelasnya. Isinya adalah ancaman
kalau si teman itu tidak menerima cintanya, maka ia akan gantung diri di pohon
tomat. Hehe, bukan dirimu yang kau bunuh, tapi pohon tomatlah yang mati.
Sedikit lebih humoris.
“Bro, kau pikir siapa yang mengajarinya menulis surat
seperti itu. Bapaknya? Ah, tidak mungkin. Guru ngaji? Mustahil ada. Kau tahu
apa???
Bertanya retoris..
“Televisi bro, televisi.” Selorohnya, tanpa memberiku
kesempatan untuk menjawab lebih dulu.
“Namun bukan itu yang akan kita bahas sekarang. Bukan
peran media yang memperkenalkan cinta terlalu dini pada generasi muda bangsa.
Itu hanya sekedar pengantar. Tapi sesuatu yang lebih penting dari itu. Sebuah
kata yang takkan habis dibicarakan sepanjang waktu, kata yang akan terus laku
di jual dalam dunia cerita, dunia layar, dan dunia nyata. Ialah : cinta.
Mendengar Fai mengatakan cinta, hatiku berdesir.
Bayangan wanita itu berkibar hebat di ingatanku. Semilir angin membelai lembut
tajuk pinus-pinus. Kudongakkan kepala dan kulihat ke atas. Batang-batang pohon
pinus yang menjulang seperti saling merangkul. Beberapa buah pinus jatuh,
terjun bebas di udara, menghantam serasah. Terpantul 2 kali dan ada yang
berhenti tak jauh dari kakiku.
“oke. Baiknya
di mulai dari mana?”
Saya kembali fokus pada Fai. Pertanyaannya barusan itu
lebih untuk dirinya sendiri.
“Kayaknya isi buku “udah putusin aja!” Karya bang
Felix menarik untuk kita angkat dalam perbincangan kita ini. Kau pernah dengar
tentang dia, parner??”
Saya menggeleng.
“Baiklah. Is no what-what.
“Disini, saya hanya akan berperan sebagai buku “udah
putusin aja!” yang berbicara kepadamu.!”
“oke.., tapi sebelum kita mulai, saya minta air minum
dulu bro”
Kuberikan botol air minumku lagi. Fai menerimanya.
Mendongak dan menuangkan isi botol kedalam mulutnya. Terdengar
ngguk…ngguk…ngguk..saat air itu melewati kerongkongannya. Segerrr
“Alhamdulillah,…oke,
sampai dimana tadi?” kata Fai sambil mengembalikan botol air minumku.
“ Sampai di minta air minum dulu bro!” kataku mantap.
Kami tertawa.
“Jadi cinta!”
Fai memulai persentasenya. “ cinta ditemukan atas semua hal. Atas nama cinta
banyak orang memperoleh kebahagiaan, atas nama cinta pula banyak orang menuai
luka nestapa. Karena cinta seorang yang gagap tiba-tiba menjadi puitis, karena
cinta pula seorang ahli sastra seolah seperti anak kecil yang baru belajar
bicara”
“Cinta bisa membuat seorang pengecut menjadi
pemberani, membuat yang paling berani jinak dihadapannya. Demi cinta tak ada
lautan yang tak bisa diseberangi, tak ada gunung yang tak bisa didaki, dan tak
ada rimba yang tak bisa disusuri
“karena cinta, pembunuh akan jadi penyayang paling
baik. Cinta pula yang memberikan harapan kepada yang putus asa.”
“sungguh mulia cinta, ia putih, suci bersih tanpa
noda. Cinta adalah kasih sayang yang tulus, yang diberikan pencipta kita, Allah
Swt. Dialah sumber segala kasih sayang dan cinta yang ada dipermukaan bumi dan
langit serta yang ada di antara keduanya. Allah-lah yang berkehendak menjadikan
setiap akal dan hati kita cenderung pada perasaan yang saling menyayangi,
saling membutuhkan. Bukan hanya butuh dicinta, tapi juga butuh untuk mencinta.
Cinta adalah fitrah manusia. Tanpa cinta takkan lengkap keberadaan kita sebagai
manusia, takkan sempurna kita sebagai makhluk Allah.
“sejak awal penciptaan kita pun, cinta telah berperan
disana. Manusia dimulai dari ketiadaan, ruang kosong tanpa waktu, lalu Allah
berkehendak menjadikan kita dengan cinta-NYA. Ditiupkan-Nya ruh kepada kita,
yang bisa membuat kita ada. Yang membuat kita bisa merasakan lezatnya hidangan
yang kita santap, sejuknya udara saat hujan mereda, dan membuat semua indra
kita bisa berfungsi. Tanpa kehendak Allah dan tanpa se izin-Nya, mustahil semua
yang ada pada diri kita bisa kita nikmati. Mustahil.
“dan yang tak kalah pentingnya dari itu..cinta adalah
pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah menanamkan rasa cinta pada jiwa kita
sebagai bentuk dari rasa cinta-Nya kepada kita agar kita berfikir tentang-Nya.
“yah itulah cinta parner…,kau masih mendengarku kan??
Fai menyadarkanku dari buaiaan kata-kata indah yang
mengalir dari lisannya.
Saya mengangguk.
“sepertinya kau banyak tahu tentang cinta.?” Kutanya
Fai.
“ah..justru saya merasa tidak tahu apa-apa tentang
itu. Kecuali hanya sedikit.” Jawabnya merendah
“ baiklah…yang tadi itu pembahasan cinta secara umum.
Sekarang kita akan mengkerucutkan pembahasan ke skala cinta yang lebih khusus.
Seperti cinta yang kau rasakan saat ini. Dan sebenarnya saya juga selalu
merasakannya.
Kuperbaiki posisi dudukku yang sebenarnya sudah baik.
Sesuatu yang lebih seru akan segera mencuat kepermukaan.
“Kita manusia biasa yang memiliki cinta, tiada yang
salah karena cinta adalah anugerah. Justru cintalah yang memanusiakan manusia,
mewarnai kehidupan dan menerbitkan harapan. Tiada masalah ada cinta pada
manusia dan tiada pernah pula Allah karuniakan selaksa cinta untuk menyiksa.
Allah turunkan cinta agar dua insan dapat bersama dalam satu bahtera asa. Allah
jadikan rasa cinta antara jenis yang berlawanan, sama seperti Allah jadikan
rasa cinta manusia terhadap apapun yang diinginkan didunia.
“Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Qur’an surah
Ali Imran ayat 14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup didunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga).”
“Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia dalam
penciptaannya telah dihiasi oleh nafsu dan keinginan. Dengan kata lain, tabiat
manusia adalah condong kepada keindahan.
Berarti jatuh
cinta itu adalah manusiawi??
“yah..memang itulah faktanya. Seseorang pernah berkata
kepada Mu’adz Ar-Razi:”anakmu telah menjalin hubungan cinta dengan seorang
wanita.” Mu’adz menjawab. Alhamdulillah, Allah
telah memberikan tabiat manusia kepadanya.
“siti Fatimah r.ha pernah berkata kepada Ali Bin Abi
Thalib r.a, suaminya.” Wahai Ali, sesungguhnya sebelum menikah, ada laki-laki
di kota mekkah ini yang sangat saya kagumi.” Kata Ali r.a:”Jadi engkau menyesal
menikah denganku”.”Tidak, karena laki-laki itu adalah kamu”ujar Fatimah r.ha
“Dan masih banyak lagi kisah serupa yang datang dari
pemuka-pemuka islam. Intinya islam mengakui eksistensi cinta terhadap lawan
jenis. Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia.
Akan tetapi, cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan dan kekotoran.
Cinta pada lawan jenis bukan sesuatu yang kotor. Bahkan ia adalah sesuatu yang
suci.
Matahari
makin tinggi. Seberkas sinarnya yang menembus tajuk pinus mentok di wajah Fai.
Jerawat-jerawat kecil yang bertebaran dikening Fai jadi jelas olehnya. Fai menggeliat.
Mencari naungan.
“Sampai
disini apa ada yang mau kau tanyakan?” Fai bertanya kepadaku, segera setelah ia
mendapat naungan tak jauh dariku.
Saya
menggeleng. Tapi sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan.
“ Sebagai lelaki dan wanita yang
normal, wajar jika rasa cinta muncul diantara keduanya. Apalagi dengan pola
interaksi kita sehari-hari yang dikemas tidak secara islami. Dimana lelaki dan
wanita yang bukan mahram bisa dengan leluasa berteman dan bergaul.”
“Namun,
ini yang terpenting. Kau camkan ini. Bukan berarti ketika Allah mengaruniakan
rasa cinta sebagai fitrah kepada manusia, lantas kita bisa mengekspresikan
sesuai kehendak kita, seperti apapun yang kita inginkan. Ada masanya, ada
caranya, dan ada aturannya. Karena itulah, islam diturunkan oleh Allah. Supaya kita tetap menjadi manusia, bukan
hewan yang bebas berekspresi saat mereka jatuh cinta.”
“lihatlah
masyarakat barat yang umumnya lebih bebas mengekspresikan cinta. Akhirnya cinta
menjadi sesuatu yang tidak lagi sakral dan romantis, kecuali tersisa dalam
film-film saja. Pada kenyataannya, mereka menyamakan antara cinta dan hubungan
badan.”
“Islam
memandang cinta itu agung dan suci, karenanya perlu diatur, dan aturannya tidak
tanggung-tanggung, langsung dari pencipta manusia. Allah Swt.
“Dan
aturan islam itu sederhana.
Fai
berhenti. Menarik nafas. Ia sengaja melakukan itu. Membuatku penasaran menunggu
kalimat berikutnya.
“Bila
cinta. Datangi walinya. Dan menikahlah..
Angin
sepoi berhembus. Menghamburkan aroma khas pinus.
“Dan
bila belum siap. Maka persiapkan dulu dirimu dalam diam. Karena islam tak
mengenal hubungan-hubungan pra-pernikahan semisal pacaran dan pertunangan.
Bahkan dengan tegas islam mengharamkan interaksi semacam itu.”
Itu
bukan pertama kalinya saya mendengar larangan berpacaran. Berkali-kali telah
kudengar hal itu keluar dari mulut para ustadz. Namun entah kenapa, hal itu
terkesan beda ketika saya mendengar Fai yang mengatakannya langsung didepanku.
Seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku. Tersentak.
“Kenapa
bro..kau tidak terima saya mengatakan pacaran itu Haram.?Fai bertanya kepadaku
Hening.
“Bukan
saya yang mengatakan itu. Tapi Tuhanmu. Tuhanku. Tuhan kita, Allah Swt. DIAlah
yang menciptakan kita. Jadi DIA lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Makanya
DIA menurunkan agama untuk menuntun kita kearah yang terbaik untuk kita.”
“Islam
adalah agama yang memuliakan manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang
dapat terjadi pada manusia itu sendiri. Cinta yang tak semestinya, cinta yang
tak halal, itulah jenis cinta yang merusak.”
“Kau
tahu kalau dengan agama, garis perbedaan antara kita dan hewan menjadi jelas.
Dalam hidup ini kita butuh makan, hewan pun begitu. Namun apa yang membedakan
kita dengan hewan. Ialah agama yang ada pada kita. Agama mengajarkan kita
bagaimanakah adad-adab dalam makan. Begitu juga dengan kecenderungan kita pada
lawan jenis. Hewan juga merasakan hal itu. Namun agama mengajarkan kita
bagaimanakah cara-cara yang baik. Yaitu itu dengan menikah. Sehingga ketika kau
mengekspresikan cinta yang kau rasakan dengan cara pacaran, saling berpegangan
tangan, berciuman, hingga berhubungan badan, maka sejatinya kau tak ada bedanya
dengan hewan. Bahkan mungkin derajatmu lebih rendah dari hewan. Karena kau
dikarunia akal untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sementara
hewan tidak.”
“Bro,
hanya dengan menikah, maka segala hasrat seksualmu bisa tersalurkan secara
halal. Hanya dengan menikah, maka kau akan menjadi manusia dihadapan cinta yang
kau rasakan. Karena dengan pacaran, kau hanya akan menjadi hewan bersama cinta yang kaurasakan.”
“Sekarang…apakah
kau mencintai dia?”
Fai
menungguku menjawab.
“Jawablah
dengan jujur..!”
Lama
saya terdiam. Kemudian pelan mengangguk.
“Apakah
kau siap menikahinya?”
Mau
tidak mau saya menggeleng. Memang itulah faktanya.
“kalau
kau mengajaknya berpacaran. Dan ternyata dia bukan jodohmu. Maka kasihanlah
dia. Karena dalam hubungan pacaran, pihak yang paling dirugikan adalah
wanitanya. Bagaimana bisa? Dengarlah..,saat kau memacarinya, tak ada yang bisa
menjamin kalau kau tidak akan menyentuh mahkotanya yang paling berharga. atau
minimal berciuman dengannya. Karena masa muda adalah masa dimana libido atau
hasrat seksual menjadi berapi-api. Bagi pemuda kebanyakan hasrat itu akan
disalurkan dengan onani, atau menonton film-film biru. Dan ketika ada pacar,
maka ia berpotensi untuk menjadi tempat pelampiasan hasrat ini yang tak lagi
puas dengan onani atau film-film biru saja. Maka jadilah keduanya tidak perawan
lagi. Dan yang paling dirugikan tentu wanitanya. Karena keperawanan tidak akan
kembali kepadanya lagi. Apalah arti wanita bila kehormatan telah dirampas
darinya. Laki-laki itu dilihat dari masa depannya, sedang wanita itu dilihat
dari masa lalunya. Dan sejahat-jahatnya laki-laki, dia masih menginginkan
istrinya suci dimalam pertama. Lalu Apakah kau mau membuat wanita yang kau
cintai itu menjadi demikian, bila seandainya dia bukan jodohmu..
“dan
kalau misalnya dia adalah jodohmu, maka dengarlah ini. Kalau toh kau bisa
menjalin hubungan yang halal dengannya, maka mengapa kau ingin memulainya
dengan hubungan yang haram..
Hatiku
basah mendengar uraian dari Fai. Nuraniku membenarkan semua yang diucapkan
olehnya. Mengapa hal sesederhana ini baru bisa kumengerti sekarang. Apa karena
selama ini saya telah dibutakan oleh nafsu. Kurasa benar kata orang, nafsu itu
mengamputasi akal. Tapi cinta justru menguatkan akal.
“Lalu
apa yang harus kulakukan sekarang?” Lirih kutanya Fai
“Cintai
saja ia dalam diam. Apabila nanti engkau sudah siap menikah, maka lamarlah dia.
Sesungguhnya itu lebih berkah bagimu.”
“Tapi
bagaimana cara menahan cinta yang terus menyala-nyala di dalam dada?”
“
Rasulullah S.a.w mengajarkan, apabila engkau belum siap menikah, maka
perbanyaklah berpuasa.”
“Tak
ada cara lain?”
Fai
menghela nafas
“Cinta
itu datang karena terbiasa, dan ia juga akan hilang karena pembiasaan. Awalnya
semua itu hanya dari rasa kagummu kepadanya. Mungkin dari suaranya. Wajahnya.
Atau sifatnya. Kekaguman itulah benih-benih cinta. Maka sebagaimana dengan
benih, apabila kau terus merawatnya, menyiraminya, dan memberinya pupuk. Maka
ia akan tumbuh menjadi pohon. Begitu juga dengan rasa kagum. Apabila kau terus
memikirkan dirinya, semua hal yang baik tentangnya, maka rasa kagum itu akan
berubah menjadi cinta. Maka cara yang harus kau lakukan adalah berhenti
memikirkannya. Jangan dengarkan musik, karena itu hanya akan membuatmu tertarik
untuk memikirkannya. Buatlah dirimu sesibuk mungkin, agar tak ada peluang
bagimu untuk mengingatnya. Banyak-banyaklah mengingat Allah, membaca
kisah-kisah Rasulullah SAW, sahabat, dan panglima-panglima islam. Insya allah
semua akan membantumu”
****
Saat menulis kalimat
ini, kata ini, huruf ini, dan tanda koma ini , saya ada diatas bus Gunung Rejeki yang melaju cepat membelah kota
Palopo. Jalan lengang. Gelap sementara mengelupas si luar sana. Alam menunggu
matahari 11 januari 2014 menurunkan sinarnya. Saya duduk dikursi nomor 17.
Dekat jendela yang telah kubuka tirainya. Sesekali saya melemparkan pandangan
keluar, melihat posisi bus sudah di daerah mana. Pohon-pohon dan rumah-rumah di
tepi jalan berlari cepat kearah yang
berlawanan. Gerakan semu. Di depan perlahan masjid agung nampak dengan
kemegahannya. Berwibawa.
Di sampingku, kursi
nomor 18, seorang mahasiswa UVRI jurusan pertambangan angkatan 2009. Dia masih
tidur. Membungkus sekujur badannya dengan selimut yang sudah disiapkan sepaket
dengan kursi dalam Bus. Tadi malam saya sempat berkenalan dengannya. Saat Bus
baru berangkat. Namanya Agil. Di Makassar kontrak rumah di Baruga Antang.
Tujuan sekarang Pompaniki. Desa pertama dari gerbang Luwu Utara. Hanya itu.
Didepan kursiku,
seorang ibu-ibu pakai kerudung bersama dua orang putrinya. Semalam saya juga
sempat berbincang dengannya. Itu karena ia yang menyapa duluan. Putrinya yang
baru kelas 1 SD-tadi malam ibunya bilang begitu-sekarang sedang berdiri di
kursi dan menempelkan wajahnya ke jendela kaca. Takjub pada masjid Agung yang
kini Bus sedang melintasi jalan didepannya. Polos. Matanya mengerjap-ngerjap.
Bibir mungilnya merengek pada sang ibu agar singgah untuk Sholat di situ. Saya
tersenyum menyaksikan dari belakang. Teringat saya pada Aini. Sepupu satu
kaliku yang usianya baru empat tahun lebih. Bagaimana dia sekarang? Sudah
hampir lima bulan saya tak melihatnya. Kudengar dari cerita-cerita kakakku di
telpon katanya dia makin lucu. Tempo hari pernah kuminta kakakku memberikan
handphone kepadanya. Saya mau bicara langsung. Dia hanya diam. Dan membuat
semua orang diseberang telponku tertawa melihatnya. Saking gemes. Padahal
menurut cerita kakakku Aini selalu bertanya-tanya tentangku, kapan saya pulang,
apa kakakku sudah menyampaikan ke saya kalau dia sudah bosan ole-ole apel,
lengkeng dan roti Maros. Dia sekarang minta boneka doraemon. Saya senyum-senyum
sendiri mendengarnya. Aini. Ah, mengapa dulu mamanya meminta saya yang
memilihkan nama untuknya.
Bus berhenti. Sebab
mendengar suara tepuk tangan. Tepuk tangan adalah isyarat yang umumnya diberi
penumpang apabila tempat tujuannya sudah
sampai. Seorang perempuan. Dua kursi didepanku. Berdiri dan bergegas turun.
Sepertinya mahasiswa. Cantik dan seksi. Astagfirullah.
Segera kubuang pandanganku keluar jendela. Coba mengenali daerah di luar sana.
Balandai. Masih jauh. Rencana saya akan turun di Baebunta. Transit dulu di
rumah nenek. Istrihat 5 jam. Baru lanjut ke desaku.
****
Sehari setelah perbincanganku dengan Fai di tegakan
pinus itu. Apa yang dikatakan Fai benar-benar membuatku galau. Menahanku
dititik dilematis. Antara melaju maju atau mundur teratur. Hari senin saya ngampus. Tidak seperti biasanya. Saya
jadi lebih banyak diam. Tugas laporan praktek lapangan ke Bengo kemarin yang
menunggu untuk dikerjakan tidak kugubris. Seharian saya di sekretariat BEM. OL.
Facebook. Baca buku. Main gitar. Menyanyikan lagu sepotong-sepotong. Sementara
kalian lalu lalang. Sibuk mencari asisten.
Malamnya-masih di
BEM-sekitar jam sembilan, setelah melewati pertimbangan panjang. Kuputuskan
untuk mengirim pesan ke wanita itu. Sebuah keputusan telah kuambil. Ku awali
dengan basa-basi. Saya ingin melakukan itu untuk yang terakhir kali padanya.
Malam. Gi pa?
Kutunggu balasannya.
Seperti biasa, lama sekali. Kak Dahri minta kutemani ke workshop. Beli air
galon. Sampai pulang dari workshop, belum juga ada balasan darinya. kuambil
gitar. kupetik. Baru intro lagu yang akan kunyanyikan, HP-ku bergetar. Ada
pesan masuk. Kulihat. Hati ku bergetar. Balasan darinya.
Duduk.
Singkat. Selalu saja begitu sms balasan darinya.
kutarik nafas. Kuketik pesan berikutnya..
Maaf. Kalau mungkin saya mengg..
Belum sampai
maksudnya, kalimat di atas kuhapus. Ku putar kata-kata di kepalaku. Menyusun
redaksi yang baru. Kuketik. Kubaca ulang. Terlalu lebay. Kuhapus lagi. Aiii.
Mengapa kata-kata yang kususun menjadi serba salah. 10 menit berlalu. Akhirnya
kuketik ini. Masih ingin basa-basi
Owh..
Di mana..??:)
Kuletakkan lagi HP-ku. Kuambil gitar. tidak kupetik,
tapi kupeluk sambil terus melirik ke layar HP-ku. Menunggu balasan. Kutunggu 10
menit. Tak ada balasan. 5 menit kemudian. Masih belum ada. 2 menit berikutnya,
HP-ku bergetar. Pesan masuk. Kubuka.
Anda slalu kalah dalam permainan togel?? Mbah
sugeng……
Siaalaan. Umpatan
kulepaskan ke udara. Senior-senior menayakan
saya kenapa. Tak kujawab.
Grrrrrrr
HP-ku bergetar.
Kulihat. Balasan akhirnya datang.
Di hatimu;)
Saya berharap isi
smsnya begitu. Tapi sayang, bunyinya lain..
Di sini..
Nyakk.
Tak berpikir panjang
segera ku ketik ini. Kalimat yang sudah kupertimbangkan matang-matang selama dua hari ini. Kalimat yang akan
mengawali langkah yang tak pernah terpikirkan olehku sebelum perbincanganku
dengan Fai tempo hari.
Kalau begitu Maafku yang sebesar-besarnya
atas kata-kata dan tingkahku selama ini. Mulai dari detik saat pesan ini
kukirim, saya akan berhenti meneror ketenanganmu. Kalau kamu masih menganggap
pesan ini adalah modus dariku. Maka okelah. Ini modus terakhirku kepadamu.
Kukirim. Sudah itu HP ku nonaktifkan. Mungkin dia akan membalas dan
mengucapkan terima kasih. Ku ambil gitar dan kubawa ke tempat warungnya aji Cia’.
Disitu saya menyanyi sekeras-kerasnya. Tanpa kusadari air mataku meleleh.
Apakah sudah sedalam ini cinta itu menghunjamkan akar-akarnya kedalam dadaku,
hingga ketika hendak di cabut maka perihnya sampai ke pelupuk mata?? Hati kutabah-tabahkan.
Pukul 12.50. saya kembali ke BEM. Senior-senior sudah pada tidur.
Kulihat labtop kak Taufik masih menyala. Kusandarkan gitar ke samping lemari.
Kuambil labtop kak Taufik. Ku buka akun facebook ku. Kulihat, teman-teman fb-ku
masih banyak yang on line. Termasuk wanita itu. Tidak biasanya fb-nya masih
aktif sampai selarut itu. Terus terang jemariku sangat gatal ingin mengirim
pesan ke akunnya. Tapi saya harus komitmen pada janji yang sudah kuucapkan.
Kutepiskan dia dari pikiranku. Sebelum kututup, kusempatkan untuk memperbaharui
statusku.
Hati mu mungkin akan
senang saat melihat wanita yang kau cintai bahagia
Namun, mampukah hatimu
untuk tetap senang kalau ternyata dia berbahagia karena telah aman darimu
****
Besoknya, pagi-pagi. Saya mencari Budi. Ada senior yang mencarinya di
sekretariat BEM. Ternyata Budi ada di gazebo depan mushollah. Cerita sama
kalian disana. Saat saya mendekat, kulihat wanita itu ada diantara kalian.
Duduk diatas gazebo. Menonton kalian
kerja laporan. Saat Menyadari ku datang jelas sekali dia pura-pura mengajak
Babra berbicara. Sok serius. Ku dekati Budi dan kubisikkan maksudku. Budi
permisi pada kalian minta diri mau ke BEM. Mengikutiku. Saya hanya tersenyum
kemudian berbalik tanpa berbicara kepada kalian. Jihan menegurku, mengatai ku:
sok cool. Saya berbalik, kutarik bibir bawahku lalu kuperlihatkan padanya.
Kubilang: sariawan ka’. Nda bisa bicara banyak. Dia tertawa.
Mulai hari itu saya mempraktekkan tips-tips yang diberikan Fai. Saya
belajar menghindar dari mendengarkan lagu-lagu mellow tentang cinta yang bisa
membuatku mengingat dia. Kusibukkan diri
sesibuk-sibuknya agar tak ada peluang untuk memikirkan dia. Ku kejar
ketinggalan laporan keteknikanku. Kurampungkan ketikan laporan GITH ku.
Kumaksimalkan asistensi posterku ke kak Daud. Kusambut antusias kepanitiaan
anniversary sylva.
Saya mulai mengamalkan puasa senin-kamis. Kuterima ajakan Rajab untuk
ikut tarbiyah ke MESKAM. Disana saya juga belajar ngaji sama seorang ikhwa dari
fakultas Ekonomi. Saya juga jadi rajin menghadiri kajian-kajian yang diadakan
oleh LDF-LDF di kampus. Dari kajian-kajian yang telah ku ikuti, ada satu
kalimat yang sangat berkesan dihatiku. Kucetak besar-besar dan kutempel di
dinding kamar kostku.
“Dengan
mengingat Allah, Allah pasti akan mengingat kita, dan siapakah yang menurunkan
ketenangan pada hati seorang mukmin? Dia Allah Sang Penguasa Hati.
****
Suatu pagi, Suci masuk ke kelas dan menjadi kaget campur gembira.
Tiba-tiba ia melihat ada gantungan kunci berupa boneka kayu kecil tergeletak
diatas buku catatannya. Gantungan kunci
itu adalah miliknya yang dulu pernah hilang di Bengo. Heran dia, kenapa
gantungan itu bisa muncul tiba-tiba disana. Saya yang duduk dua kursi dibelakangnya
pura-pura tak peduli dengan sok sibuk membaca.
****
Kuhindari hal-hal yang berpotensi untuk membuatku bertemu dengannya.
Kalau perkuliahan sudah selesai, saya cepat-cepat kembali kesekretariat BEM.
Mengurung diri disana dengan kesibukan yang kubuat-buat. Kalau kebetulan saya melihat dia berjalan
diatas koridor yang akan kulewati, maka saya ambil jalan mutar atau singgah
bila kebetulan di dekat situ ada gazebo atau tempat duduk. Kalau misalnya saya
kuliah satu kelas dengannya, saya mencari tempat duduk yang paling jauh
darinya. Nomor HP-nya juga sudah kuhapus dari daftar kontakku. Dua-duanya.
Dan akhirnya, usaha kerasku tak
sia-sia. Saya berhasil membuat hatiku untuk tidak terlalu heboh saat mendengar
suaranya atau namanya disebut orang lain. Sedikit-sedikit saya mampu menepis
bayangnya begitu hinggap di benakku. Dan
dirinya tak lagi lebih spesial dibandingkan wanita-wanita yang lain.
Kutemui Fai. Saya berterima kasih sekali kepadanya. Kuajak dia makan ke
warung Dian. Saya yang traktir. Saya sadar, apa yang kuberikan itu tak
sebanding dengan apa yang diberikannya kepadaku. Tapi dia bergurau. Katanya hal
itu akan jadi sebanding kalau saya bisa mentraktirnya setiap hari sampai
sarjana.
****
Malam ceremonial Anniversary Sylva. Saat acara formal telah di tutup dan
tibalah acara persembahan tiap angkatan, saya menyendiri diruang mushollah yang
telah disulap panita menjadi tempat penyimpanan konsumsi. Entah kenapa saya
mulai alergi dengan keramaian. Membaca artikel-artikel dari internet lebih
menarik bagiku malam itu. Yang kubaca adalah kisah penaklukkan konstantinopel
oleh pasukan salahuddin al ayyubi saat seorang
wanita masuk keruangan. Nurfatihah amirah. Ia kaget melihatku ada didalam. Tidak lama
Hikma menyusul masuk. Mereka makan kue cadangan yang disimpan panitia. Setelah
itu mereka mendekatiku. Katanya ada hal penting yang akan dibicarakan. Saya
sedikit kaget melihat keseriusan mereka bicara. Ada urusan penting apa Ira dan
Hikma denganku. Lalu kami mulai berbicara dengan dialeg khas bahasa ibu kita namun
jika di interpretasikan kedalam bahasa yang dianggap baku oleh kaidah bahasa
Indonesia, maka jadinya begini
“kulihat kau banyak berubah belakangan ini”
Ira memulai pembicaraan
“Berubah..? berubah jadi Vampire maksudmu!?”
saya bergurau. Pura-pura tak tahu apa yang dimaksud Ira.
“ Jangan bertingkah konyol. Kau terlalu
cerdas untuk tidak memahami maksud kami!” Hikma masuk. Coba menelanjangiku.
“Oke..tapi kurasa aku berubah kearah yang
positif. Jadi jangan menatapku
seolah-olah aku berubah kearah yang negaif.” Kuperbaiki posisi dudukku. Tadinya
menghadap ke laptop, kini menghadap kedua wanita itu. Sepertinya ada masalah
serius yang akan mereka sampaikan.
“ positif apanya. Apa
menjadi seorang pecundang itu kau anggap sebagai perubahan yang positif?” Ira
membuatku kaget.
“ Hey….aku tak tahu
apa yang kalian bicarakan. Siapa yang pecundang?” kata-kata itu murni lahir
dari rahim ketidaktahuannku.
Ruangan hening.
Sayup-sayup kudengar kegaduhan dari dalam aula.
“kalau begitu,
dengarlah. Kami punya cerita untukmu!”
“ Sesungguhnya kami mengenal satu buah yang
sangat ranum. Warnanya merekah. Dan aroma yang keluar dari buah ini sangat
menggiurkan bagi siapa saja yang membaunya. Suatu ketika ada yang datang dan
membombardir buah yang ranum ini dengan ribuan
kerikil kata-kata yang ia lesatkan dari ketapel mulut manisnya. Tapi
buah ini terlalu kuat untuk ditaklukkan. Yang datang itu akhirnya putus asa
lalu pergi. Namun tak di sangka, ternyata buah ini sebenarnya sudah mulai rapuh. Kalau saja yang datang itu
tak menyerah, maka cukup satu kali tembakan lagi buah ini akan jatuh dan
menjadi milikknya. Tapi sayang..ia telah pergi. Berhari-hari kami mencarinya,
berharap bisa memberikan kabar gembira ini kepadanya, namun sayang baru malam
ini kami bisa bertemu dengannya..
Ira menggenggam
tanganku. Menatap tajam..
“sebenarnya dia
sekarang mulai cinta sama kamu. Kamu tahu setelah melihat perubahanmu yang
tiba-tiba jadi pendiam, hampir tiap saat ia mengajak kami membahas tentangmu.
Tentang perasaan bersalahnya kepadamu, tentang sms-sms gombalmu yang tak lagi
mampir ke hpnya, tentang dirimu yang tak lagi usil mengganggunya seperti biasa.
Jujur ia malu mengakui ini ke kami, tapi ia sangat merindukan itu semua. Kami
tahu ia berharap kamu kembali lagi seperti dulu, dan kali ini ia tak akan
keberatan kalau kau minta untuk jadi pacarnya..
Dan teranglah ia. Hatiku perih
mendengar penuturan Ira. Seperti ada berpuluh-puluh buah durian yang jatuh dan
menimpa hatiku di tempat yang sama. Malam itu komitmenku terhadap kata-kata Fai
di uji. Saya mau menangis, tapi malu pada Hikma dan Ira. Jika seandainya berita
ini sampai padaku beberapa hari yang lalu sebelum kejadian di tegakan pinus
itu, tentu keadaan ini tak akan menimpaku. Malah berita itu akan kusambut
dengan menyembeli seekor kerbau. Karena bagiku, berita itu lebih membahagiakan
dari pada berita akan kelahiran seorang anak laki-laki yang sampai pada
ayahnya. Tapi itu dulu. Maka kusampaikan kepada Hikma dan Ira apa sebenarnya
yang telah kualami. Meski akhirnya
mereka tak puas mendengar penjelasanku. Kami berhenti ketika
panitia-panitia yang lain masuk ke ruangan.
Yang tak habis kupikir, bagaimana bisa wanita itu merasakan hal yang
dulu kurasakan juga padanya. Padahal sikapnya selalu dingin, cuek, bahkan
terkesan jijik saat saya coba mendekatinya. Padahal kata-kata puitisku dulu
seumpama aroma comberan yang membuatnya selalu mual dan ingin muntah kala
mendengarnya. Mengapa kemudian dia berbalik dan mengatakan welcome kepadaku.
****
Usaha yang kulakukan selama ini
Hanya seperti melempar lumpur ke tembok
Kau pikir tembok itu akan rubuh
Tidak. Tapi lumpur itu akan membekas disana
Ini adalah sepenggal
syair Arai dalam novel Sang Pemimpi.
Apa yang Arai katakan kini telah menimpaku dan wanita itu. Selama
ini saya luput akan satu hal. Kata-kata puitisku memang selalu hancur
berkeping-keping saat membentur wajah cueknya. Namun tanpa dia dan saya sadari,
kata-kata itu sebenarnya telah membekas dihatinya.
Saya teringat pada
mimpiku dikelas ilmu kayu dulu. Di mimpi itu saya melihat ada jerawat yang
ketinggiannya sekitar 2 mm dari permukaan kening wanita itu. Saat ku tanya
padanya siapakah penyebab jerawat itu. Belum sempat dia menjawab, mimpiku malah
bersambung. Saya sempat berpikir kalau penyebabnya adalah orang lain dan itu
bukan saya. Namun kini saya sadar.
Penyebab jerawat 2 mm
itu adalah saya.
Selesai ditulis, jum’at 17 januari 2014.
Pukul 05.34. Bakda shubuh.
Lara, 25 km dari
jantung kabupaten Luwu Utara, Masamba.
NB: 1. dalam penulisan, banyak
mengadopsi gaya penulisan dari 3 novelis besar Indonesia. Habiburrahman el
shirazi. Andrea hirata. Darwis tere-liye.
2. Buku referensi: udah putusin
aja! Karya Felix Y. Siauw, Ya Allah, Aku Jatuh Cinta, Karya Burhan Shadiq
3. Dalam perbincangan antara Fai
dan tokoh saya di tegakan pinus, sengaja di tulis dengan menggunakan bahasa
baku. Hal ini untuk memudahkan isi buku udah putusin aja beradaptasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar